SisKA Menyajikan Laporan Keuangan dalam Hitungan Detik

SisKA Menyajikan Laporan Keuangan dalam Hitungan Detik

Anda mungkin sudah tahu, untuk mengetahui neraca dan rugi laba perusahaan dibutuhkan waktu 8 jam lebih bila menggunakan perangkat manual, dan 4 jam lebih dengan komputer. Namun lain halnya jika menggunakan program komputer Siska, hanya butuh 7 – 15 detik saja. Ini memungkinkan karena dengan SisKA semua serba otomatis. Sekali input penjualan, otomatis stok berkurang, otomatis piutang bertambah, otomatis jurnal penjualan tercatat, otomatis keluar neraca dan rugi laba.  “Mereka yang biasa lembur untuk membuat laporan keuangan tidak perlu lembur lagi. Ini tentu tidak hanya akan membuat efisiensi perusahaan meningkat. Lebih dari itu, SisKA membantu kebutuhan perusahaan akan suatu informasi yang akurat, cepat, dan tepat serta dapat dijamin kebenarannya untuk membantu pengambilan keputusan. Dengan SisKA semua informasi tersebut bisa tersedia setiap saat ketika dibutuhkan. Jadi, perusahaan dapat mengolah semua data yang ada dan menjadikan suatu informasi yang sangat bermanfaat,” papar Peter Hermanto pemilik SisKA. SisKA mempunyai banyak keunggulan dari program-program lain, di antaranya: Program menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga mudah dimengerti dan mudah dipelajari. Bisa diakses dan dipakai secara bersamaan dengan banyak user dengan menggunakan jaringan komputer (Multi User/Client Server). Bisa membatasi otoritas Operator sehingga Operator hanya diijinkan untuk melakukan transaksi transaksi tertentu saja (Multi Level User). Tepat jika dimanfaatkan untuk perusahaan yang mempunyai beberapa gudang stok (Multi Gudang). Selain itu SisKA juga Multi Satuan Stok, Satuan dibagi menjadi tiga tingkatan, sehingga dapat lebih mudah dalam membaca informasi stok. Terintegrasi dengan Keuangan sehingga prosesnya langsung membentuk laporan keuangan, tanpa harus menjurnal ulang setiap transaksi. Laporan yang sudah jadi dapat ditransfer keMs.Excel, sehingga data dapat diolah lagi menjadi informasi yang lebih baik. SisKA juga dapat dimodifikasi sesuai dengan keinginan pemakai program, dan Teruji, karena dibangun dari ide berbagai perusahaan besar dan kecil, sehingga sangat cocok untuk distributor maupun retail. Namun perlu diingat, SisKA hanya akan menghasilkan output yg benar jika data-data yang ada di perusahaan, diinput dengan benar. Dengan berbagai keunggulan tersebut, SisKA sangat cocok untuk distributor atau retail: Sepatu, besi, asesoris, mainan, buku, spare part, handphone, elektronik, apotik, resto, bengkel, hotel dan lainnya. Selain itu, Anda juga tidak perlu khawatir akan mengalami kesulitan, karena SisKA juga menyediakan gratis installasi, training, dan juga menyediakan konsultan akuntansi. Bahkan, SisKA juga merupakan satu-satunya software yang memberi “Garansi Uang Kembali” jika SisKA tidak sesuai dengan yang diharapkan, garansi hanya berlaku 3 bulan, setelah bulan keempat tidak ada garansi uang kembali. Jadi, dapatkan sekarang juga di toko toko komputer terdekat.
SisKA Sistem Komputer Akuntansi Agus Budiawan, S.Kom agusb@kliksiska.com 087831061972 085640117757 085101308001
Sumber : https://simpang5.wordpress.com/2009/06/12/siska-menyajikan-laporan-keuangan-dalam-hitungan-detik/

Perbedaan Pengeluaran Modal vs Pengeluaran Pendapatan

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat artikel tentang pengeluaran aktiva (expenditure). Ada kawan sempat bertanya tentang istilah :
"dibebankan atau dikapitalisasi ?"
Dan ternyata beberapa pembaca juga bingung, maksudnya bagaimana ? Baiklah, tulisan kali ini bisa berhubungan dan sedikit menjelaskan,

Capital Expenditure | Pengeluaran Modal

Pengeluaran modal atau yang juga dikenal dengan istilah capex (capital expenditure) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap, menambah kapasitas output aktiva tetap, menambah tingkat keefisienan aktiva tetap, juga memperpanjang umur ekonomis suatu aktiva tetap (manfaat ekonomisnya lebih dari satu tahun buku). Apabilia dilihat dari tingkat material, biasanya, biaya biaya ini dikeluarkan dalam nominal yang cukup material. Selain itu tingkat keseringan pengeluaran modal ini jarang terjadi.
Contohnya:
Biaya yang dikeluarkan dalam pembelian aktiva tetap Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pembelian salah satu atau lebih komponen aktiva tetap Maupun biaya penggantian komponen-komponen aktiva yang perlu diganti
Biaya yang dikeluarkan dengan tujuan mendapatkan manfaat ekonomis dimasa yang akan datang, meningkatkan kapasitas produksi maupun tingkat efisiensi dan juga bisa memperpanjang umur ekonomis atau masa manfaat atas aset tetap.
Misalnya, pembelian mesin produksi, pembelian komponen mesin produksi, meng-upgrade kapasitas mesin produksi, yang umumnya jumlah yang dikeluarkan untuk itu sangat material.
Jadi, pengeluaran modal merupakan pengeluaran yang tidak dibebankan pada saat periode pengeluaran itu terjadi melainkan di KAPITALISASI sebagai aset tetap dalam Neraca. Karena pengeluaran pengeluaran ini diharapkan memberikan manfaat untuk perusahaan di masa yang akan datang ! Kemudian, secara periodik, aset tetap ini dialokasikan sebagai beban penyusutan pada periode mendatang.

Revenue Expenditure | Pengeluaran Pendapatan

Pengertian revenue expenditure atau pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran/biaya biaya yang hanya memberikan manfaat ekonomis pada saat PERIODE BERJALAN terjadinya pengeluaran. Pengeluaran ini tidak dikapitalisasi sebagai aset tetap pada neraca tetapi LANGSUNG DIBEBANKAN pada laporan laba/rugi periode berjalan. Dilihat dari nilai materialitasnya, pengeluaran pendapatan ini nilainya cenderung kecil, alias tidak material bagi perusahaan. Manfaat ekonomisnya yang diperoleh tidak lebih dari satu tahun buku. Pengeluaran ini biasanya juga sering terjadi dalam operasional perusahaan dan berulang ulang.
Contohnya seperti pengeluaran pemeliharaan mesin, pembersihan mesin, melumasi mesin agar bisa beroperasi seperti biasanya. Pengeluaran pengeluaran seperti ini biasanya tidak membuat umur ekonomis mesin bertambah, juga tidak bisa meningkatkan kapasitas produksi mesin maupun tingkat efisiensinya Dan nominal yang dikeluarkan cenderung tidak material dibanding perolehan mesin itu sendiri. Pengeluaran seperti ini berulang terjadi dan pencatatannya langsung dibebankan pada periode tersebut.
Namun, jika seandainya ada salah satu komponen mesin yang rusak, misalnya ada beberapa kabel yang harus diganti atau plank yang harus di las dan kerusakannya tidak sampai membuat turun mesin, nilainya tidak material. Maka pengeluaran ini dicatat sebagai beban perbaikan. Tidak dikapitalisasi !
Apa bisa dimengerti ?
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/01/perbedaan-pengeluaran-modal-vs.html
 

Penyusutan Aset Tetap / Depreciation

Penyusutan Aset Tetap / Depreciation

Penyusutan Aktiva Tetap

Penyusutan - Setelah Aset Tetap diperoleh, maka aset tetap tersebut akan digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan operasional dan produksinya. dalam fase ini, perlakuan akuntansi atas aset tetap perusahaan ada beberapa perlakuan, salah satu perlakuan akuntansi Aset Tetap adalah Penyusutan Aset Tetap, selain perlakuan yang lainnya seperti expenditure dan revaluasi aset tetap yang akan saya bahas juga nantinya.
Penyusutan Aktiva Tetap (Depreciation) merupakan konsekuensi dari penggunaan aktiva tetap dimana aktiva tetap akan mengalami penurunan fungsi.
Standar Akuntansi Keuangan menyatakan penyusutan atau depresiasi aset tetap merupakan jumlah yang bisa disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntansi selama massa manfaat aset tetap menggunakan berbagai metode penyusutan yang sistematis. Apapun metode penyusutan yang digunakan, diperlukan konsistensi dalam aplikasinya, tidak berubah ubah, tanpa memandang pertimbangan pajak ataupun tingkat keuntungan perusahaan supaya bisa memberikan daya banding hasil operasional entitas dari beberapa periode.
Dalam bahasa sederhana, penyusutan aset tetap ialah biaya perolehan Aset Tetap yang dialokasikan kepada Biaya Operasional akibat penggunaan aset tetap. atau dengan kata lain biaya yang dibebankan kedalam harga pokok produksi sebagai akibat dari penggunaan aset tetap dalam proses produksi serta operasional entitas secara umum.
Contoh Jurnal Atas Penyusutan Aset Tetap sebagai berikut: Bentuk Jurnalnya :
Debit | Penyusutan Rp xxx
Kredit | Akumulasi Penyusutan Rp xxx
Biasanya dicatat saat tutup buku, besarnya nilai penyusutan tergantung dari beberapa faktor dan Ini dia beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besarnya penyusutan.

Faktor Faktor Penyusutan Aktiva Tetap

  • Harga Perolehan [Acquisition Cost]
Faktor yang sangat berpengaruh atas besaran biaya penyusutan adalah harga perolehan atau acquisition cost, saya sudah memposting artikelnya untuk lebih jelasnya silahkan baca: Perolehan Aktiva Tetap
  • Nilai Residu atau Nilai Sisa Aset [Salvage Value]
Nilai Sisa Aset adalah prediksi atau taksiran potensi arus kas masuk bila aset tersebut dijual pada saat penarikan atau penghentian aset. Salvage Value tidak harus/selalu ada, misalnya pada masa penarikannya asetnya tidak bisa dijual atau tidak laku untuk dijual. hanya jadi limbah saja
  • Umur Ekonomis Aset Tetap (Economical Life Time)
Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis. Biasanya aset tetap memiliki Dua jenis umur:
  1. Umur fisik Aset Tetap, berhubungan dengan kondisi fisik suatu aset tetap. Suatu aset memiliki umur fisik jika secara fisik aset tetap masih baik kondisinya meskipun mengalami penurunan fungsi.
  2. Umur Fungsional Aset Tetap, berhubungan dengan kontribusi aset tetap tersebut dalam penggunaanya. Aset Tetap masih mempunyai umur fungsional jika aset tetap tersebut masih memberikan manfaat atau kontribusi dalam operasional produksi perusahaan meskipun secara fisik suatu aset tersebut sudah tidak baik Dan atau bahkan jika suatu fisik aset perusahaan masih dikatakan baik, tapi karena tidak berkontribusi bagi perusahaan, maka aset belum tentu memiliki umur fungsional.

Metode Metode Penyusutan Aset Tetap  (Depreciation Method)

  • Metode penyusutan yang berdasarkan waktu yaitu metode garis lurus, metode pembebanan yang menurun yang terdiri dari metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun atau metode saldo menurun berganda.
  • Metode penyusutan berdasarkan penggunaan yaitu metode jam jasa dan metode jumlah unit produksi.
  • Metode penyusutan yang berdasarkan kriteria lainnya yaitu metode berdasarkan jenis kelompok, metode analisis, metode sistem persediaan.
Namun, kebanyakan di Indonesia hanya ada beberapa metode saja yang sering digunakan dalam praktenya, berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling sering diaplikasikan karena mudah dan juga relevan dengan perlakuan akuntansi.
Metode Garis Lurus [ Straight Line Method ]
Metode ini menganggap aset tetap akan mengalirkan manfaat yang merata disepanjang penggunaannya, sehingga aset tetap dianggap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama besar disetiap periode penggunaan hingga aset tetap tidak dapat digunakan lagi.
Metode ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia. Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode penyusutan garis lurus digunakan untuk menyusutkan aset tetap yang fungsinya tak terpengaruh oleh besarnya volume output yang dihasilkannya, semisal bangunan, peralatan kantor dll
Metode Saldo Menurun [ Declining Balance Method ]
Dalam Metode saldo menurun ini, aset tetap tetap diasumsikan memberikan manfaat terbesarnya pada periode awal masa penggunaan, dan akan mengalami penurunan fungsi yang makin besar di periode-periode berikutnya seiring umur ekonomis aset tetap yang berkurang. jadi semakin lama penggunaan aset tetap maka kontribusinya akan menurun dalam operasional perusahaan. Metode saldo menurun ini cocok diaplikasikan pada aset tetap dimana tingkat ke-aus-annya bergantung dari volume output yang dihasilkan, contohnya mesin produksi.
Untuk contoh soal perhitungan dan penjelasan detail lainnya juga metode metode penyusutan yang lain silahkan baca lanjutan artikel ini di link dibawah ini :
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/11/penyusutan-aset-tetap.html

Penyusutan Metode Saldo Menurun / Declining Balance Method

Penyusutan Metode Saldo Menurun / Declining Balance Method
Postingan saya sebelumnya tentang penyusutan aset tetap, jika belum membacanya, silahkan baca di:
Kali ini akan saya bahas mengenai Metode Penyusutan Saldo Menurun Penyusutan Aset Tetap Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)
Pada dasarnya, Aset Tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesarnya pada awal awal masa penggunaan. Ya ini karena mesin masih dalam kondisi gress, segar dengan kekuatan yang masih optimal. Masih jauh dari masa aus (rusak) mesin atau aset tetap yang lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kontribusi aset terbesar tersebut mulai menurun, kinerjanya tak lagi bisa maksimal, mesin tak lagi muda dan turun performa, gedung mulai reyot reyot, kendaraan mulai mogok mogok dan lain sebagainya.
Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aset tetap yang tingkat kehausannya tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aset mesin produksi.
Rumus Depresiasi Saldo Menurun
Penyusutan = [(100% : Umur Ekonomis) x 2] x Nilai Perolehan/Nilai Buku
Contoh kasus penyusutan metode saldo menurun:
Supaya lebih mudah, kita gunakan contoh kasus sebelumnya yang kita kerjakan menggunakan metode garis lurus
Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 6 Juni 2014, harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 13,000,000 dan mesin tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun Apabila nanti sudah tidak digunakan lagi atau aset ditarik penggunaannya, diperkirakan mesin tersebut masih bisa ditimbang kiloan, besi tuanya dapat dijual seharga Rp 1.000,000. Dalam pencatatan akuntansi aset tetap, perusahaan menggunakan metode penyusutan saldo menurun.
Penyusutan tahun 2014 :
 
[(100% : 10) x 2 ] x 7/12 x 13.000.000 = Rp 1.516.710
Notes :
Karena selama tahun 2014 aset hanya digunakan 7 bulan, maka dikali 7/12
Penyusutan tahun 2015 :
[(100% : 10) x 2 ] x (13.000.000 - 1.516.710) = 2.296.658
Notes :
Nilai buku aset tahun 2015 dikurangi penyusutan aset tahun sebelumnya, sebesar Rp 1.516.710
Untuk tahun tahun setelahnya, cara pengerjaanya sama, hingga 10 tahun masa pengoperasian mesin tersebut.
Lalu saat pencatatan, jurnal nya adalah sama dengan metode garis lurus, cuma beda di angka saja
31 Desember 2014
Debit | Depreciation Rp1.516.710
Kredit | Accumulated Depreciation Rp1.516.710
Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya
31 Desember 2015
Debit | Depreciation Rp2.296.658
Kredit | Accumulated Depreciation Rp2.296.658
Jurnal jurnal penyusutan tahun tahun berikutnya sama saja, jadi tidak perlu dijelaskan lagi. 🙂
# Pada akhir periode, penyusutan ini juga harus dilakukan jurnal penyesuaian ! Jurnal penyesuaian ini untuk mengakui adanya beban pada aset mesin ini. penyesuaian atas penyusutan aset tetap ini sejumlah akumulasi penyusutan selama periode berjalan.
Pencatatan dalam jurnal penyesuaian:
Contoh Jurnal Penyesuaian Aset Tetap Mesin Tahun 2014
Debit | Accumulated Depreciation Rp1.516.710
Kredit | Depreciation Expense Rp1.516.710
Jurnal Penyesuaian tahun 2015
Debit | Accumulated Depreciation Rp2.296.658
Kredit | Depreciation Expense Rp2.296.695
Untuk jurnal penyesuaian tahun tahun berikutnya, cara pengerjaanya sama saja.
Notes:
Dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun ini, jumlah angka penyusutan tiap tahun akan mengalami penurunan penyusutan tiap tahunnya.
Hal ini menunjukkan bahwa aset tetap (khususnya mesin) memberikan kinerja, manfaat terbaiknya terhadap perusahaan berada pada saat awal awal aset tetap tersebut digunakan, semakin lama semakin menurun kinerja aset tetap tersebut karena keausan.
Itu tadi contoh perhitungan mengenai Penyusutan Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method). Selanjutnya, penyusutan aset tetap metode jumlah angka tahun, silahkan baca pada postingan saya berikutnya di : Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun
      Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/11/penyusutan-metode-saldo-menurun.html

Penyusutan Metode Garis Lurus / Straight Line Method

Penyusutan Metode Garis Lurus / Straight Line Method

Penyusutan Metode Garis Lurus

Seperti di ketahui, metode penyusutan terdiri dari beberapa metode, diantaranya:
  • Metode Penyusutan Garis Lurus
  • Metode Penyusutan Menurun Ganda
  • Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun
  • Metode Penyusutan Satuan Jam Kerja
  • Metode Penyusutan Satuan Hasil Produksi
Apapun metode dan jenis aset yang digunakan, perusahaan sebaiknya menerapkan salah satu metode yang ada dengan konsisten, tidak mengubah-ubah metode penyusutan yang dipakainya. Dan jikapun melakukan perubahan metode penyusutan, hendaknya diberikan penjelasan mengenai sistem akuntansi yang dipakai dalam laporan keuangan disertai alasannya.

Metode Penyusutan Garis Lurus | Straight Line Method

Penyusutan Metode Garis Lurus ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia. Metode garis lurus ini menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata di sepanjang masa penggunaannya, sehingga aset tetap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode hingga aset tetap ditarik dari penggunaannya dalam operasional perusahaan.
Perhitungan Penyusutannya:
penyusutan aset metode garis lurus
rumus penyusutan aset tetap metode garis lurus
Bisa juga menggunakan persentase:
penyusutan aset metode garis lurus
rumus penyusutan aset tetap metode garis lurus
Contoh Penyusutan Metode Garis Lurus :
Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 6 Juni 2014, harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 13,000,000 Mesin tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun, dan apabila nanti sudah tidak digunakan lagi atau aset ditarik penggunaannya, diperkirakan mesin tersebut masih bisa ditimbang kiloan (spesialisasi orang madura nih, hehe becanda) besi tuanya dapat dijual seharga Rp 1.000,000. Dalam pencatatan akuntansi aset tetap, perusahaan menggunakan METODE GARIS LURUS Perhitungan Penyusutan :
Beban penyusutan untuk tahun 2014, dihitungan dengan cara :
Beban Penyusutan = 7/12 x [(Rp 13,000,000 – 1.000,000) : 10 tahun]
 = Rp 699.999 ==> kita bulatkan saja Rp 700.000
# Tunggu Darimana angka 7/12 ?
Ok, Dalam 1 tahun, terdapat 12 bulan, dan mesin tersebut mulai dioperasikan mulai Bulan Juni Jadi selama tahun 2014, mesin tersebut digunakan pada bulan : Juni - Juli - Agustus - September - Oktober - November - Desember. Jadi pada tahun 2014, Mesin tersebut digunakan selama 7 Bulan
Maka penyusutan selama 7 Bulan tersebut : 7/12
Seandainya mesin tersebut diperoleh tanggal 1 januari, maka pada tahun 2014 mesin tersebut digunakan selama 12 bulan dan dihitung dengan cara =
12/12 x [(Rp 13,000,000 – 1.000,000) : 10] …….dan seterusnya
Dan untuk tahun 2015, maka beban penyusutannya selama 12 bulan full jadi menggunakan 12/12
Atas pembebanan penyusutan ini dicatat sebagai berikut : 31 Desember 2014
Debit | Depreciation Rp700.000
Kredit | Accumulated Depreciation Rp700.000
# Pada akhir periode, penyusutan ini juga harus dilakukan jurnal penyesuaian Untuk mengakui adanya beban pada mesin ini, penyesuaian atas penyusutan mesin ini sejumlah akumulasi penyusutan selama periode berjalan.
Pencatatan dalam jurnal penyesuaian:
Debit | Accumulated Depreciation Rp700.000
Kredit | Depreciation Expense Rp700.000
Demikianlah metode penyusutan Metode Garis Lurus, untuk metode selanjutnya, metode penyusutan menurun ganda, silahkan baca :
sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/11/metode-penyusutan-aset-tetap-garis-lurus.html?m=1