Cara Membuat Pelanggan Yang Tidak Puas Menjadi Senang

Anda mungkin tidak dapat menyenangkan semua konsumen Anda, namun tidak ada salahnya jika Anda mencoba. Bagaimana perusahaan top menangani pelanggan yang tidak senang ? Berikut adalah strategi yang mereka lakukan untuk menyenangkan pelanggan yang tidak senang menjadi senang :

1. Beradaptasi dengan tipe kepribadian pelanggan
Anda perlu mengetahui dengan tingkah pola perilaku pelanggan Anda terlebih dahulu kemudian beradaptasi dengan kebiasaan perilaku pelanggan tersebut. Ada pelanggan yang tidak sabaran atau cenderung agresif, pelanggan yang suka berbicara banyak, atau pelanggan yang sering merasa khawatir. Anda perlu tahu bagaimana cara menghadapi pelanggan – pelanggan Anda.

2. Merespon cepat
Kecepatan lebih penting dari solusi. Tanpa kecepatan Anda tidak akan memiliki kesempatan untuk menemukan solusi. Pelanggan juga akan merasa senang jika keluhannya direspon dengan cepat. Mereka akan merasa dihargai dan akan kembali memberi produk Anda karena pelayanan yang Anda berikan sangat baik.

3. Bertanggung jawab penuh atas kesalahan
Tentu Anda harus bertanggung jawab atas kesalahan yang Anda lakukan terlebih lagi jika menyangkut soal pelanggan. Jika Anda tidak bertanggun jawab pada kesalahan Anda tentu Anda akan kehilangan pelanggan Anda. Dan nama produk atau bisnis Anda di cap tidak baik.

4. Libatkan pelanggan
Anda dapat menyediakan ruang bagi pelanggan untuk memberikan umpan baliknya. Pelanggan Anda dapat memberikan rating 1 – 5 bintang pada sistem kinerja perusahaan atau produk Anda. Jika rating kurang dari 5, Anda dapat melakukan survey atau melihat orang atau produk Anda yang bermasalah.

5. Gunakan kekuatan maaf
Maaf adalah kata yang kuat untuk karena Anda mengakui kesalahan Anda membuat pelanggan Anda tidak nyaman karena mengambil waktu dari jadwal mereka untuk menghubungi Anda. Anda bisa mengatakan “Kami akan segera mengurus ini untuk Anda.

(( sumber : laruno.com))

brosur SisKA UMKM 5

Pengaruh Implementasi Software Akuntansi Terhadap Kinerja Pegawai

Pengaruh Implementasi Software
Akuntansi Terhadap Kinerja
Pegawai

Lego Waspodo
Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung
Jl. Prof.Dr. Soemantri Brojonegoro No.1 Gedong Meneng Bandar Lampung
Telpon (0721) 704622
legowaspodo@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian ini menguji implementasi software akuntansi pemerintahan (SIMDA) terhadap kinerja pegawai dengan dimoderasi perceived enjoyment dan computer playfulness. Penelitian ini bersifat empiris dengan menggunakan teknik sensus sampling dalam pengumpulan data. Data sebagai sampel adalah 40 Pegawai di Kabupaten Lampung Timur. Pengaruh implementasi software akuntansi pemerintahan (SIMDA) dianalisis menggunakan regresi original least square, sedangkan pengaruh dua variabel moderasi (perceived enjoyment and computer playfulness) dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA). Hasil analisis menunjukkan bahwa impelementasi software akuntansi pemerintahan (SIMDA) berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Hasil penelitian juga membuktikan bawah perceived enjoyment and computer playfulness terbukti memoderasi pengaruh antara impelementasi software akuntansi (SIMDA) terhadap kinerja pegawai.

Kata kunci : impelementasi software akuntansi pemerintahan (SIMDA), kinerja pegawai, perceived enjoyment and computer playfulness

PENDAHULUAN

Sejak tahun 2002 ditetapkan Kepmendagri 29/2002 yang mengacu pada PP Nomor 105 tahun 2000 dan UU Nomor 25 tahun 1999 mengenai pengimplementasian model struktur otoritas baru dan rancangan sistem informasi akuntansi yang baru di seluruh Indonesia. Undang-undang tersebut ditindak lanjuti dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah dan telah diubah kembali dengan Permendagri No. 59 tahun 2007 dan Permendagri No. 17 tahun 2007 yang mengatur bagaimana wewenang, hak dan kewajiban Daerah ditopang oleh manajemen keuangan “modern” dan penganggaran, penyusunan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah.

Sejak diberlakukannya Undang-Undang tersebut, Pemerintah Daerah selaku pengelola dana publik harus mampu menyediakan informasi keuangan yang diperlukan secara akurat, relevan, tepat waktu, dan dapat dipercaya. Pemerintah Daerah dituntut memiliki sistem informasi yang andal, jika sistem informasi akuntansi yang dimiliki masih lemah, kualitas informasi yang dihasilkan dari sistem tersebut juga kurang andal (Wahyundaru,2001). Salah satu bentuk dari sistem informasi yang spesifik adalah Sistem Infomasi Manajemen Daerah (SIMDA) yang merupakan penerapan sistem di dalam organisasi pemerintahan untuk mendukung informasi yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen dalam rangka mengambil keputusan.

Sistem aplikasi tersebut dapat digunakan sebagai pengolahan data pengelolaan keuangan pemerintah daerah. Implementasi SIMDA diharapkan mampu membantu aktivitas operasional pegawai daerah pada khususnya. Program Aplikasi Komputer Simda versi 2.1. merupakan program aplikasi yang ditujukan untuk membantu pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan daerah secara terintegrasi, dimulai dari penganggaran, penata usahaan hingga akuntansi dan pelaporannya. Dengan adanya implementasi SIMDA diharapkan mampu meningkatkan kinerja organisasi PEMDA.

Faktor pengguna sangatlah penting dalam implementasi sistem yang baru, hal ini sesuai dengan konsep teori Technology Accpetance Model (TAM) yang menyebutkan bahwa pengguna sistem cenderung akan menggunakan sistem apabila sistem mudah digunakan dan bermanfaat baginya. Perceived enjoyment merupakan salah satu komponen dari TAM yang menjelaskan bahwa seseorang akan menggunakan sistem yang baru apabila ia merasa nyaman dengan sistem tersebut, sedangkan computer playfuness merupakan sikap spontanitas seseorang karena ia tertarik untuk menggunakan suatu teknologi yang baru. Dua hal ini diharapkan mampu membantu para pegawai dalam menerima implementasi SIMDA sehingga akan membantu peningkatan kinerja mereka.

Berdasarkan paparan di atas, maka diajukan pokok permasalahan sebagai berikut :

  1. Apakah implementasi SIMDA berpengaruh terhadap kinerja pegawai?
  2. Apakah perceived enjoyment dan computer playfulness memoderasi pengaruh implementasi SIMDA terhadap kinerja pegawai?

KAJIAN TEORI

Pendekatan Teori Kontijensi

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hubungan antara Teori Kontinjensi dengan implementasi sistem. Premis dari Teori Kontinjensi adalah tidak terdapat sistem pengendalian yang secara niversal selalu tepat untuk bisa diterapkan pada seluruh organisasi dalam setiap keadaan. Suatu sistem pengendalian akan berbeda-beda di tiap-tiap organisasi yang berdasarkan pada faktor organisatoris dan faktor situasional (Otley,1995). Dengan didasarkan pada pendekatan kontijensi maka ada kemungkinan terdapat variabel penentu lainnya yang saling berinteraksi, selaras dengan kondisi tertentu yang dihadapi.

Kesesuaian (fit) yang lebih baik antara sistem kontrol dengan variabel kontijensi dihipotesakan pada beberapa penelitian menghasilkan kinerja organisasi yang meningkat (Fisher,1990). Penggunaan konsep kesesuaian (fit) dalam teori kontijensi menunjukkan tingkat antara faktor-faktor kontekstual (kontijensi) dan sistem akuntansi manajemen akan memungkinkan manajer menigkatkan kinerja (Riyanto, 2001).

Implementasi Software Akuntansi (SIMDA Ver.2.1)

Pemerintah daerah saat ini telah dituntut untuk bisa menghasilkan Laporan Pertanggung jawaban (LPJ) yang memiliki nilai akuntabilitas dan transparansi yang tinggi. Untuk dapat menghasilkan LPJ tersebut tentunya memerlukan sarana dan prasarana yang memadai, disertai dengan pembelajaran terhadap sumber daya manusia yang dimiliki oleh pemerintah daerah agar dapat memahami dan melaksanakan sistem yang baru dalam pengelolaan keuangan dan pengelolaan barang daerah. (www.bpkp.go.id)

Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dalam hal ini Deputi Pengawasan Bidang Penyelenggaraan Keuangan Daerah, telah menghasilkan banyak produk yang dapat digunakan Pemda dalam membenahi manajemen pemerintahan daerah. Hal ini sesuai dengan himbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Sidang Paripurna Khusus Dewan Perwakilan Daerah (2007), dimana dalam salah satu pesannya “Lembaga BPKP juga dapat memberikan asistensi dan konsultasi agar tidak ada kekeliruan dalam pengelolaan dana”. Produk-produk yang telah dihasilkan Deputi Pengawasan Bidang Penyelenggaraan Keuangan Daerah dalam sektor Teknologi Informasi salah satunya adalah program aplikasi SIMDA versi 2.1. (www.bpkp.go.id)

Program Aplikasi Komputer Simda versi 2.1. merupakan program aplikasi yang ditujukan untuk membantu pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan daerah secara terintegrasi, dimulai dari penganggaran, penata usahaan hingga akuntansi dan pelaporannya. Program aplikasi ini juga didukung dengan :

1. Buku Manual Sistem dan Prosedur Penganggaran,
2. Buku Manual Sistem dan Prosedur Penatausahaan,
3. Buku Manual Sistem dan Prosedur Akuntansi dan Pelaporan
4. Buku Pedoman Pengoperasian Aplikasi SIMDA Versi 2.1 (www.bpkp.go.id)

Pemerintah daerah kabupaten Lampung Timur mulai menerapkan SIMDA versi 2.1 sejak tahun anggaran 2007. Sebelumnya, Pemerintah daerah kabupaten Lampung Timur mengerjakan laporan keuangannya secara manual menggunakan program Microsoft Exel, dimana pengerjaan laporannya menjadi lambat, susah dan tingkat keakuratannya rendah sehingga laporannya tidak dapat digunakan tepat pada waktunya. Dengan diterapkannya sistem teknologi informasi berbasis teknologi informasi yang saling terintegrasi dengan menggunakan server yang terdapat pada SKPKD (Bagian Keuangan Sekretariat Daerah), penyajian LKPD (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah) nya akan menjadi lebih cepat, tepat dan akurat serta dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas laporannya.

Kinerja Pegawai

Kinerja pegawai adalah kinerja para individu dalam kegiatan manajerial meliput perencanaan, investigasi, koordinasi, supervisi, pengaturan staf, negosiasi, dan representasi (Mahoney et al. 1963). Kinerja pegawai yang diperoleh adalah salah satu faktor yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas organisasi. Pada dasarnya inti sebuah organisasi atau purusahaan adalah manusia karena yang menjalankan adalah manusia. Penilaian kinerja merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam menjalankan fungsi dan wewenang dalam suatu perusahaan.

Mahoney (1963) dalam Widyastuti (2006) mendefinisikan kinerja pegawai sebagai penilaian kinerja para individu anggota organisasi dalam kegiatan-kegiatan manajerial seperti perencanaan (planning), pengordinasian (coordinating), pengorganisasian (organizing), penginvestigasian (investigating), supervisi (supervising) penyusunan staf (staffing) pengevaluasian (evaluating). Frekuensi pelaporan kinerja harus disesuaikan dengan kebutuhan manajer yang bersangkutan. Secara umum frekuensi pelaporan beragam tergantung pada tingkatan manajemen di perusahaan dan hal itu tidak bisa disamaratakan.

Perceived Enjoyment

Menurut Davis (1989) perceived enjoyment merupakan sejauh mana individu percaya bahwa aktivitas menggunakan sistem dianggap menyenangkan dalam dirinya sendiri, dan penggunaan sistem merupakan bagian dari konsekuensi kinerja yang disebabkan dari penggunaan sistem. Jika menggunakan suatu sistem terasa menyenangkan maka para pemakai akan termotivasi atau memiliki motivasi instrinstik untuk menggunakannya. Adanya asumsi perceived enjoyment akan membawa pengaruh postifi terhadap implementasi sistem.

Computer Playfulness

Computer playfulness merupakan suatu faktor yang secara khas dapat dicirikan dalam dimensi motivasi intrinsik, konsep dasar dari computer playfulness menuju kepada para pemakai yaitu kecenderungan untuk menelusuri dan bertindak secara sepontan dengan komputer (Hackbarth, 2003). Sedangkan menurut Venkantesh (2008) Computer playfulness berkaitan dengan spontanitas manusia untuk berinteraksi dengan komputer.

Pengembangan Hipotesis

Implementasi suatu sistem mengakibatkan perubahan kondisi pada suatu organisasi. Pada kondisi seperti ini para pegawai dan manajer dituntut untuk mampu merespon perubahan-perubahan situasi lokal yang terjadi. Hirst (1981) yang menjelaskan bahwa teknologi informasi dapat digunakan oleh manajemen untuk proses perencanaan, koordinasi dan penilaian evaluasi yang nantinya dijadikan pedoman di masa mendatang. Adanya teknologi informasi menuntut para pegawai harus mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan tersebut. (Primasari, 2013). Implementasi software akuntansi (SIMDA Ver.2.1.) ditujukan untuk membantu aktivitas organisasi pemerintah dalam dalam pengelolaan keuangan daerah secara terintegrasi, dimulai dari penganggaran, penata usahaan hingga akuntansi dan pelaporannya.

Seyogyanya implementasi software akuntansi (SIMDA Ver.2.1.) akan berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai pemda. Mengacu pada penelitan Arbenethy (2005), Primasari (2013) apabila dikaitkan dengan implementasi sistem maka diharapkan dengan adanya software akuntansi (SIMDA Ver.2.1.) tersebut dapat meningkatkan kinerja organisasi, sehingga dirumuskan hipotesa sebagai berikut:

H1: Implementasi software akuntansi (SIMDA Ver.2.1.) berpengaruh terhadap kinerja pegawai

Perceived enjoyment merupakan perasaan nyaman dari pengguna dalam mengoperasikan suatu sistem (Venkantesh,2000). Adanya perasaan nyaman dari pengguna dalam mengoperasikan sebuah sistem yang baru tentu akan sangat mendukung diterimanya implementasi sebuah sistem dan secara otomatis akan berpengaruh terhadap kinerja. Computer playfulness merupakan motivasi instrinsik dalam diri seseorang, adanya sikap spontanitas tertarik untuk menggunakan suatu teknologi komputer yang baru tentu akan sangat mendukung diterimanya implementasi sistem sehingga dengan sendirinya berdampak kepada kinerja. Berdasarkan paparan di atas maka dikemukakan hipotesis sebagai berikut:

H2: Perceived enjoyment dan computer playfulness memoderasi pengaruh implementasi SIMDA terhadap kinerja pegawai

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Adapun sampel yang digunakan terdiri atas pegawai di tingkat SKPD maupun SKPKD dan sampel yang diteliti adalah pegawai bagian keuangan yang menggunakan SIMDA versi 2.1 pada Pemda kabupaten Lampung Timur, terdiri dari: Kasubbag Keuangan (PPKSKPD) dan Staf Keuangan (Bendahara, Pembantu PPK urusan SPM dan Laporan Keuangan, Pembantu PPK Pembukuan dan Verifikasi, dan Pembantu PPK Pembuat Dokumen) di Kabupaten Lampung Timur.

Teknik Sampel

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sensus sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan mengambil semua sampel yang ada.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara survey dengan mendistribusikan kuesioner terhadap pengguna software SIMDA versi 2.1 pada Pemda kabupaten Lampung Timur. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dimana peneliti membuat rumusan pertanyaan yang berhubungan dengan obyek penelitian, kemudian data akan didapat dari jawaban atas pertanyaan yang sudah dijawab oleh responden terpilih. Metode ini dipilih oleh peneliti karena kuesioner merupakan mekanisme pengumpulan data yang efisien karena peneliti dapat mengetahui apa yang dibutuhkan dan bagaimana mengukur variabel yang digunakan.

Pengukuran Variabel

Implementasi software akuntansi

Implementasi software akuntansi diukur melalui riset sebelumnya Yunita (2004) dengan 6 (enam) item pertanyaan terdiri atas kemudahan menggunakan software, kompleksitas software, tingkat keamanan software, manfaat software dalam menghemat waktu, dan manfaat secara keseluruhan. Implementasi software akuntansi diukur menggunakan skala liker 1 sampai dengan 5 dengan range sangat setuju hingga sangat tidak setuju

Kinerja Pegawai

Variabel kinerja dikur dengan menggunakan self – rating yang dikembangkan oleh Mahoney dan Carol (1963) dan telah banyak digunakan oleh peneliti-peneliti lain. Penggunaan self – rating dalam pengukuran kinerja untuk menghindari kemungkinan kerja yang tidak representative (Honeman,1997). Karena jika digunakan superior rating ada kemungkinan superior tersebut kurang memahami kondisi sebenarnya.

Pengukuran ini menggunakan sembilan item pertanyaan yaitu: pemilihan staff, perencanaan, pengawasan, perwakilan, investigasi, koordinasi, negosiasi, evaluasi dan kinerja secara keseluruhan. Ukuran kinerja diukur dengan skala likert satu sampai dengan lima. 1= jauh dibawah rata-rata, 2= sedikit dibawah rata-rata, 3= sama dengan rata-rata kinerja rekan anda, 4= sedikit diatas rata-rata dan 5= jauh diatas rata-rata.

Perceived enjoyment

Perceived enjoyment merupakan persepsi manusia dimana kegiatan menggunakan sebuah sistem informasi dipersepsikan menyenangkan, terlepas dari kinerja yang dihasilkan dari penggunaan sistem informasi. Variabel perceived enjoyment diukur menggunakan instrumen Zhang et.al (2006) yang terdiri dari 3 (tiga) pertanyaan menggunakan skala likert 1 sampai 5. Adapun indikator penelitian nya adalah 1) menikmati menggunakan system yang baru, 2) system baru tidak menimbulkan beban, 3) merasa nyaman menggunakansystem yang baru

Computer playfulness

Computer playfulness berkaitan dengan spontanitas manusia untuk berinteraksi dengan komputer. Variabel computer playfulness diukur menggunakan instrumen Venkantesh (2000), yang terdiri dari 4 (empat) pertanyaan menggunakan skala likert 1 sampai 5. Adapun indikator penelitian nya adalah 1) computer meningkatkan spontinitas berkreasi, 2) computer meningkatkan kreatifitas, 3) menggunakan computer meningkatkan keahlian, 4) menggunakan computer meningkatkan imajinatif

Teknik Analisis

Uji Kualitas Instrumen

Menurut Hair et al (1995) kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas. Uji tersebut masing-masing untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instrumen. Ada 2 prosedur yang dilakukan untuk mengukur reliabilitas dan validitas data, yaitu: uji konsistensi internal terhadap jawaban responden atas instrumen penelitian dan uji validitas konstruk dengan cara mengkorelasikan antara skor masing-masing item dan skor totalnya. Keterangan dari kedua uji kualitas data adalah sebagai berikut:

  1. Uji konsistensi internal (reliabilitas) ditentukan dengan koefisien cronbach alpha. Suatu konstruk atau instrumen dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha di atas 0,60 (Nunnally, 1967 dalam Imam, 2005).
  2. Uji homogenitas data (validitas) dengan uji person correlation. Jika hasilnya signifikan maka data dikatakan valid.

Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel yang kecil. Salah satu uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S).

Uji Asumsi Klasik

Sehubungan dengan penggunaan metode regresi berganda (multiple regression) maka perlu dilakukan pengujian asumsi klasik yang terdapat dalam regresi berganda sebagai berikut:

Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah terdapat korelasi antar variabel independen pada model regresi (Imam, 2002). Uji ini dapat melihat besaran nilai VIF dan tolerance. Pedoman yang digunakan untuk suatu model regresi yang bebas multikolonieritas adalah nilai VIF semua variabel independen dibawah nilai 10 dan nilai tolerance di atas 0,1 (Hair, 1998).

Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan apakah dalam model regresi linear terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya) (Imam, 2002). Uji ini dilakukan dengan melihat hasil Durbin Watson:

  1. jika d (4-dL) maka terdapat autokorelasi.
  2. jika d terletak antara dU dan (4-dU) maka tidak ada utokorelasi.
  3. jika d terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4-dL) maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti.

Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dari residual pengamatan yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas. Model regresi yang baik adalah homokedastisitas atau tidak terhadi heterokedastisitas (Imam, 2002).Deteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada grafik plot (scatterplot) antara nilai prediksi variabel terkait dengan residualnya.

Uji Hipotesis

Analisis statistik yang digunakan adalah analisis regresi sederhana dan berganda sebagai model yang memprediksi hubungan kausal antara variabel dependen dengan beberapa variabel independen. Regresi linear sederhana untuk menguji hubungan antara implementasi SIMDA dengan kinerja pegawai dan menguji hubungan dua variabel moderating (perceived enjoyment, computer playfulness) dengan kinerja pegawai. Moderated regression analysis (MRA) digunakan untuk menentukan hubungan interaksi antara dua variabel oleh satu variabel sebagai variabel moderating (Nunnally, 1994).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Responden

Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah beberapa pegawai kabupaten Lampung Timur, yang merupakan pengguna SIMDA. Berdasarkan kuesioner yang kembali maka didapat sebanyak 40 kuesioner yang dapat diolah.

Uji Kualitas Instrumen

Berdasarkan hasil uji validitas dan reabilitas terlihat bahwa data memenuhi semua asumsi dan layak digunakan untuk pengujian selanjutnya.

Uji Asumsi Klasik

Uji Multikolonieritas

Hasil perhitungan nilai Tolerance juga menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai Tolerance kurang dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen yang nilainya > 95%. Hasil perhitungan Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama yaitu tidak ada satu variabel independen yang memiliki nilai VIF > 10. jadi dapat dikatakan bahwa tidak ada multikolonieritas antar variabel independen dalam model regresi.

Uji Heteroskedastisitas

Berdasarkan hasil grafik plot (scatterplot) menunjukkan bahwa tidak terdapat pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat heteroskedastisitas pada model regresi

Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk menjawab masalah penelitian yang dirumuskan sebelumnya.

  1. Implementasi SIMDA berpengaruh Terhadap Kinerja Pegawai (H1)Pengujian hipotesis 1 dilakukan dengan melihat interaksi antara variabel Implementasi SIMDA dengan Kinerja Pegawai (persamaan 1). Adapun hasil pengujian menunjukkan besarnya adjusted R2 adalah 0,196, hal ini berarti 19,6 % variasi Kinerja Pegawai dapat dijelaskan oleh variasi dari variabel Implementasi SIMDA Implementasi SIMDA, sedangkan sisanya 80,4% dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain di luar model. Dari model regresi tampak variabel informasi akuntansi signifikan pada 0,05, hal ini berarti bahwa variabel Kinerja Pegawai dipengaruhi oleh Implementasi SIMDA.
  2. Perceived enjoyment dan computer playfulness memoderasi secara positif pengaruh Implementasi SIMDA terhadap kinerja Pegawai (H2).Pengujian hipotesis 2, dilakukan dengan uji interaksi atau sering disebut dengan Moderated Regression Analysis (MRA) yang merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear dimana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian dua atau lebih variabel independen). Hasil pengujian hipotesis 2 dapat dilihat pada lampiran yang menunjukkan variabel interkasi yang merupakan interaksi antara Implementasi SIMDA dan Perceived enjoyment dan computer playfulness juga signifikan. Hasil output SPSS terlihat jelas bahwa variabel interaksi memberikan koefisien -0.037dan signifikan pada 0.0000 yang berarti variabel Perceived enjoyment dan computer playfulness adalah pure moderator atau variabel moderating.

     

PEMBAHASAN

Implementasi SIMDA berpengaruh terhadap kinerja pegawai

Teori yang dikemukakan Macintosh (1994) bahwa penerimaan implementasi sistem merupakan bagian yang sangat penting dalam spektrum mekanisme kontrol keseluruhan yang digunakan untuk memotivasi, mengukur, dan memberi sanksi tindakan-tindakan para manajer dan karyawan organisasi. Adanya penerimaan implementasi sistem mampu meningkatkan perencanaan dan kontrol aktivitas organisasi dengan lebih baik sehingga meningkatkan kinerja (Sujono,dkk, 2014). Dari hasil uji hipotesis terbukti bahwa implementasi SIMDA berpengaruh terhadap kinerja pegawai daerah Kabupaten Lampung Timur. Hal tersebut mengindikasikan bahwa dengan pengelolaan sumber daya teknologi informasi yang dilakukan oleh organisasi dalam hal ini infrastruktur, strategi, sumber daya manusia akan meningkatkan pemahaman perusahaan/ organisasi terhadap job description dan kegiatan operasional organisasi sehari-hari, sehingga dengan adanya pemahaman tersebut, perusahaan mampu meningkatkan kinerja Individual. Hasil ini juga mendukung penelitian-penelitian sebelumnya Bambang Agus Pramuka,dkk (2010), Primasari, (2013), Arbenethy (2005). Adanya implementasi teknologi informasi seyogyanya akan membantu secara positif para pegawai dalam melakukan aktivitas operasionalnya sehari-hari.

Perceived enjoyment dan computer playfulness memoderasi pengaruh implementasi SIMDA terhadap kinerja pegawai

Implementasi Sistem tidak akan sukses jika tidak dibarengi dengan perilaku individu (pegawai) yang mendukung implementasi sistem tersebut Jaworski dan Young (1998) dalam Waspodo (2013). Perceived enjoyment dan computer playfulness merupakan motivasi instrinsik dalam diri individu yang bersifat positif. Adanya sikap tersebut secara langsung akan mempengaruhi secara positif implementasi SIMDA terhadap kinerja pegawai daerah Kabupaten Lampung Timur

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Hasil penelitian ini mempertegas dan mendukung temuan Hirst (1981) yang menjelaskan bahwa teknologi informasi dapat digunakan oleh manajemen untuk proses perencanaan, koordinasi dan penilaian evaluasi yang nantinya dijadikan pedoman di masa mendatang. Penggunaan teknologi informasi dapat berdampak positif terhadap bawahan dan teknologi informasi baik sebagai penilaian prestasi seseorang. Hasil penelitian ini juga mempertegas terdapat pengaruh simultan yang signifikan antara Perceived enjoyment dan computer playfulness, implementasi SIMDA terhadap kinerja individual sehingga variabel yang diajukan sebagai variabel moderating memoderasi pengaruh implementasi SIMDA terhadap kinerja pegawai seperti yang dihipotesiskan.

Saran

  1. Penelitian mendatang dapat mempertimbangkan sumber daya lainnya yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat meningkatkan kinerja pegawai.
  2. Perlu dilakukan pengembangan instrument yaitu disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan dari objek yang diteliti

DAFTAR PUSTAKA

Abernethy, M. A., and Jan Bouwens, (2005), “ Determinants of accounting innovation”, ABACUS.

Bambang Agus Pramuka, Dona Primasari, Widyahayu W.K., (2010), Pengaruh sistem informasi akuntansi terhadap kinerja manejerial dengan tiga variabel moderating, Jurnal JEB.

Cavalluzzo, K. S., and C. D. Ittner, (2004), “Implementing Performance Measurement Innovations: Evidence From Government”, Accounting, Organizations and Society, Vol. 29, Nos 3–4.

Davis, F.D, Bagozzi. R.P. & Warshaw. P.R., (1989), User acceptance of computer technology: a comparison of two theoretical models, ManagementScience, 35, 982-1003.

Fisher, Aubrey, (1990), Teori-teori dan Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Hackbarth. Gary and Varun Grover. Mun Y. Yi., (2003), Computer playfulness and anxiety: positive and negativemediators of the system experience effect on perceived ease of use, Journal Information & Management.

Hirst, M.K., (1981), “Accounting Information and the Evaluation of Subordinate Performance: A Situational Approach”, The Accounting Riview 56(4): 771-784.

Honeman, C.T., (1997), “Introduction to managerial performance”, Prentice Hall.

Igbaria, (1989), “ A path analytic study of individual characteristic, computer anxiety, and attitudes toward microcomputer”, Journal of Management, Vo.15. No. 3.

Indriantoro, Nur., Bambang Supomo, (1999), “Metode Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi Dan Manajemen”, Edisi Pertama, Penerbit BPFE-Yogyakarta. Yogyakarta

Macintosh,N.B., (1994), “Management accounting and control system”, Jhon Willey and sons.

Meirinto,Wahyu, (2011), “Kajian Online system Informasi BRI (BRINETS): pendekatan Technology Accpetance Model(TAM), Jurnal Akuntansi Multi Paradigma, Vol.2 No.1.

Nunnaly, J. C. And I.H., Bernsten, (1994), Psycometric Theory, McGraw-Hill.3 th. Ed.

Otley, D., (1995), “Management control, organization design and accounting information system”.UK: Prentice Hall.

Ghozali, Imam, (2001), Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.

Primasari, Dona, (2013), Pengaruh implementasi Sistem Informasi Keuangan Daerah dan Kinerja Pegawai: Kualitas informasi laporan keuangan sebagai variabel intervening, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Optimum Vol. 3 No. 2.

Riyanto, Bambang, (2001), Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Keempat, Cetakan Ketujuh, Yogyakarta: BPFE.

Robbins, Stephen, (2003), “ Organizational Behavioral”, Prentice Hall, Inc.

Sujono, dkk., (2014), Pengaruh implementasi sistem akuntansi keuangan daerah terhadap kinerja pegawai, Riset mandiri, tidak dipublikasikan.

Venkatesh, V, & Morris M. G., (2000), Why Don’t Men Ever Stop to Ask for Direction? Gender, Social

Influence and their Role in Technology Acceptance and Usage Behavior. MIS Quarterly, Vol. 24 No. 1, March.

Venkantesh, V., dan Hillol Bala, (2008), Technology Acceptance Model 3 and research agenda intervention, Decision Science Vol. 39.

Waspodo, Lego, (2013), “Pegaruh teknologi informasi terhadap kinerja individual: computer anxiety sebagai variabel moderating”, Konferensi Nasional Akuntansi dan Bisnis, Serang, Banten.

Wahyundaru, Sri Dewi, (2001), Akuntansi Sektor Publik dalam Otonomi Daerah, Suara Merdeka, Edisi 21 Februari.

Widiastuti, Budi, (2006), Pengaruh Beban Kerja Motivasi dan Kemampuan terhadap kinerja Pegawai

Pada Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang.

Yunita, Dian, (2004), “Pemgaruh tingkat computer anxiety terhadap keahlian dosen akuntansi dalam menggunakan komputer”, Skripsi UNS Solo (Tidak Dipublikasikan).

www.bpk.go.id, Diakses 25 Juli 2014

Zhang, Ping, Heshan Sun, (2006), An Empirical Study on Causal Relationships between Perceived Enjoyment and Perceived Ease.

(((sumber : http://journal.umy.ac.id/index.php/mb/article/download/1101/1179)))

 

ACES menggandakan omzet dengan gerai baru

ACES menggandakan omzet dengan gerai baru

JAKARTA. PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) memperluas jaring pemasarannya tahun ini dengan membuka enam gerai baru. Perincian lokasi gerai baru ACES adalah, empat di kawasan Jabodetabek serta masing-masing satu di Sulawesi Utara dan Jawa Tengah. Nilai investasi tiap gerai baru itu adalah Rp 4 juta per meter persegi.

Peritel alat perkakas ini terbilang gencar berekspansi. Total gerai ACES hingga akhir tahun lalu adalah 45 gerai, bertambah 150% jika dibandingkan jumlah gerai di tahun 2006. Total luas gerai ACES per akhir 2010 130.000 meter persegi (m2), meningkat 152,42% daripada luas gerai di empat tahun lalu.
BACA JUGA :

ACES incar penjualan senilai Rp 2 triliun tahun ini

Gerai baru membuka jalan ACES untuk menuai pendapatan lebih tinggi. “Pertumbuhan penjualan akan terbatas tanpa gerai baru,” tutur Jansen Kustianto Sinarmas Sekuiritas, Senin (7/2).

Dalam proyeksi Jansen memperkirakan, gerai baru memungkinkan ACES mencetak pertumbuhan penjualan 20% per tahun. Jika hanya mengandalkan gerai lama, pertumbuhan penjualan ACES tahun ini berkisar 10%-12%.

Nico Omer Jonckheere, Vice President Research and Analyst Valbury Asia menambahkan, pengelola ACES sudah pas memilih lokasi gerai baru. Kawasan Jabodetabek, Sulawesi Utara dan Jawa Tengah cocok untuk peritel perkakas. “Lokasi-lokasi itu punya potensi pertumbuhan rumah baru atau renovasi yang tinggi,” kata dia.

Tanpa pesaing

Bisnis ritel ACES juga mendapat angin segar dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan tahun ini berkisar 6,0%-6,5%.

Jansen menilai pertumbuhan ekonomi akan menambah jumlah masyarakat yang berada di kelas ekonomi menengah-atas. Golongan masyarakat itu yang selama ini menjadi pasar ACES.

Jansen menghitung, pendapatan ACES sepanjang tahun ini bisa mencapai Rp 2,2 triliun, meningkat 25% daripada estimasi pendapatan untuk tahun 2010. Proyeksi pendapatan ACES di tahun 2011 versi Nico adalah Rp 2 triliun, tumbuh 10% daripada estimasi untuk tahun 2010. Sekadar catatan, manajemen ACES juga menargetkan pendapatan tahun ini Rp 2 triliun.

Jansen menghitung rasio harga berbanding laba alias price earning ratio (PER) ACES sudah 24 kali. Angka itu terbilang tinggi karena kebanyakan peritel memiliki PER berkisar 20 kali.

Namun Jansen menilai ACES pantas masuk kategori premium karena pertumbuhan margin dan balance sheet yang sehat. “Sulit melakukan perbandingan karena ACES tidak memiliki kompetitor sejenis. Tiap bisnis ritel punya karakter unik,” kata dia. Jansen memasang rekomendasi hold dengan target harga Rp 2.700 per saham.

Sedang Nico menilai, valuasi yang sudah tinggi akan membatasi potensi kenaikan harga saham ACES. Ia pun menilai, ACES lebih cocok sebagai investasi jangka panjang. Nico merekomendasi hold dengan target harga Rp 2.600 per saham.

Sedang Swati Chopra, Analis CLSA Asia Pacific Markets merekomendasikan outperformed dengan target harga Rp 3.100 per saham.
Harga ACES, Senin (7/2), Rp 2.500 per saham, menguat 2,04% daripada harga penutupan Jumat (4/2).

 

sumber :
http://investasi.kontan.co.id/news/aces-menggandakan-omzet-dengan-gerai-baru-1

SisKA Menyajikan Laporan Keuangan dalam Hitungan Detik

SisKA Menyajikan Laporan Keuangan dalam Hitungan Detik

Anda mungkin sudah tahu, untuk mengetahui neraca dan rugi laba perusahaan dibutuhkan waktu 8 jam lebih bila menggunakan perangkat manual, dan 4 jam lebih dengan komputer. Namun lain halnya jika menggunakan program komputer Siska, hanya butuh 7 – 15 detik saja. Ini memungkinkan karena dengan SisKA semua serba otomatis. Sekali input penjualan, otomatis stok berkurang, otomatis piutang bertambah, otomatis jurnal penjualan tercatat, otomatis keluar neraca dan rugi laba. 

“Mereka yang biasa lembur untuk membuat laporan keuangan tidak perlu lembur lagi. Ini tentu tidak hanya akan membuat efisiensi perusahaan meningkat. Lebih dari itu, SisKA membantu kebutuhan perusahaan akan suatu informasi yang akurat, cepat, dan tepat serta dapat dijamin kebenarannya untuk membantu pengambilan keputusan. Dengan SisKA semua informasi tersebut bisa tersedia setiap saat ketika dibutuhkan. Jadi, perusahaan dapat mengolah semua data yang ada dan menjadikan suatu informasi yang sangat bermanfaat,” papar Peter Hermanto pemilik SisKA.

SisKA mempunyai banyak keunggulan dari program-program lain, di antaranya:
Program menggunakan Bahasa Indonesia, sehingga mudah dimengerti dan mudah dipelajari. Bisa diakses dan dipakai secara bersamaan dengan banyak user dengan menggunakan jaringan komputer (Multi User/Client Server). Bisa membatasi otoritas Operator sehingga Operator hanya diijinkan untuk melakukan transaksi transaksi tertentu saja (Multi Level User). Tepat jika dimanfaatkan untuk perusahaan yang mempunyai beberapa gudang stok (Multi Gudang).

Selain itu SisKA juga Multi Satuan Stok, Satuan dibagi menjadi tiga tingkatan, sehingga dapat lebih mudah dalam membaca informasi stok. Terintegrasi dengan Keuangan sehingga prosesnya langsung membentuk laporan keuangan, tanpa harus menjurnal ulang setiap transaksi. Laporan yang sudah jadi dapat ditransfer keMs.Excel, sehingga data dapat diolah lagi menjadi informasi yang lebih baik. SisKA juga dapat dimodifikasi sesuai dengan keinginan pemakai program, dan Teruji, karena dibangun dari ide berbagai perusahaan besar dan kecil, sehingga sangat cocok untuk distributor maupun retail. Namun perlu diingat, SisKA hanya akan menghasilkan output yg benar jika data-data yang ada di perusahaan, diinput dengan benar.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, SisKA sangat cocok untuk distributor atau retail: Sepatu, besi, asesoris, mainan, buku, spare part, handphone, elektronik, apotik, resto, bengkel, hotel dan lainnya. Selain itu, Anda juga tidak perlu khawatir akan mengalami kesulitan, karena SisKA juga menyediakan gratis installasi, training, dan juga menyediakan konsultan akuntansi. Bahkan, SisKA juga merupakan satu-satunya software yang memberi “Garansi Uang Kembali” jika SisKA tidak sesuai dengan yang diharapkan, garansi hanya berlaku 3 bulan, setelah bulan keempat tidak ada garansi uang kembali. Jadi, dapatkan sekarang juga di toko toko komputer terdekat.

SisKA
Sistem Komputer Akuntansi

Agus Budiawan, S.Kom
agusb@kliksiska.com
087831061972
085640117757
085101308001

Sumber :
https://simpang5.wordpress.com/2009/06/12/siska-menyajikan-laporan-keuangan-dalam-hitungan-detik/

Perbedaan Pengeluaran Modal vs Pengeluaran Pendapatan

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat artikel tentang pengeluaran aktiva (expenditure). Ada kawan sempat bertanya tentang istilah :

“dibebankan atau dikapitalisasi ?”

Dan ternyata beberapa pembaca juga bingung, maksudnya bagaimana ?

Baiklah, tulisan kali ini bisa berhubungan dan sedikit menjelaskan,

Capital Expenditure | Pengeluaran Modal

Pengeluaran modal atau yang juga dikenal dengan istilah capex (capital expenditure) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap, menambah kapasitas output aktiva tetap, menambah tingkat keefisienan aktiva tetap, juga memperpanjang umur ekonomis suatu aktiva tetap (manfaat ekonomisnya lebih dari satu tahun buku).

Apabilia dilihat dari tingkat material, biasanya, biaya biaya ini dikeluarkan dalam nominal yang cukup material.

Selain itu tingkat keseringan pengeluaran modal ini jarang terjadi.

Contohnya:

Biaya yang dikeluarkan dalam pembelian aktiva tetap

Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pembelian salah satu atau lebih komponen aktiva tetap

Maupun biaya penggantian komponen-komponen aktiva yang perlu diganti

Biaya yang dikeluarkan dengan tujuan mendapatkan manfaat ekonomis dimasa yang akan datang, meningkatkan kapasitas produksi maupun tingkat efisiensi dan juga bisa memperpanjang umur ekonomis atau masa manfaat atas aset tetap.

Misalnya, pembelian mesin produksi, pembelian komponen mesin produksi, meng-upgrade kapasitas mesin produksi, yang umumnya jumlah yang dikeluarkan untuk itu sangat material.

Jadi, pengeluaran modal merupakan pengeluaran yang tidak dibebankan pada saat periode pengeluaran itu terjadi melainkan di KAPITALISASI sebagai aset tetap dalam Neraca.

Karena pengeluaran pengeluaran ini diharapkan memberikan manfaat untuk perusahaan di masa yang akan datang !

Kemudian, secara periodik, aset tetap ini dialokasikan sebagai beban penyusutan pada periode mendatang.

Revenue Expenditure | Pengeluaran Pendapatan

Pengertian revenue expenditure atau pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran/biaya biaya yang hanya memberikan manfaat ekonomis pada saat PERIODE BERJALAN terjadinya pengeluaran.

Pengeluaran ini tidak dikapitalisasi sebagai aset tetap pada neraca tetapi LANGSUNG DIBEBANKAN pada laporan laba/rugi periode berjalan.

Dilihat dari nilai materialitasnya, pengeluaran pendapatan ini nilainya cenderung kecil, alias tidak material bagi perusahaan.

Manfaat ekonomisnya yang diperoleh tidak lebih dari satu tahun buku.

Pengeluaran ini biasanya juga sering terjadi dalam operasional perusahaan dan berulang ulang.

Contohnya seperti pengeluaran pemeliharaan mesin, pembersihan mesin, melumasi mesin agar bisa beroperasi seperti biasanya.

Pengeluaran pengeluaran seperti ini biasanya tidak membuat umur ekonomis mesin bertambah, juga tidak bisa meningkatkan kapasitas produksi mesin maupun tingkat efisiensinya

Dan nominal yang dikeluarkan cenderung tidak material dibanding perolehan mesin itu sendiri.

Pengeluaran seperti ini berulang terjadi dan pencatatannya langsung dibebankan pada periode tersebut.

Namun, jika seandainya ada salah satu komponen mesin yang rusak, misalnya ada beberapa kabel yang harus diganti atau plank yang harus di las dan kerusakannya tidak sampai membuat turun mesin, nilainya tidak material.

Maka pengeluaran ini dicatat sebagai beban perbaikan. Tidak dikapitalisasi !

Apa bisa dimengerti ?
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/01/perbedaan-pengeluaran-modal-vs.html

 

Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) | Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure

Dalam perlakuan akuntansi terhadap aset tetap, ada fase penggunaan aktiva tetap (utilization) setelah fase perolehan aset tetap.

Pada fase penggunaan aktiva tetap ini, aktiva tetap diharapkan menghasilkan output dan memberikan hasil kembali atas biaya biaya yang pernah dikeluarkan pada saat masa perolehannya.

Ya, sudah seharusnya aktiva tetap yang dibeli mulai menghasilkan sesuatu untuk perusahaan.

Tapi, Setiap output yang dihasilkan oleh aktiva tetap, tentunya memerlukan pengorbanan yang dalam akuntansi biasa disebut sebagai beban/biaya (expenses) ataupun cost (harga pokok).

Agar bisa berproduksi untuk menghasilkan output yang diharapkan, aktiva tetap harus dijalankan atau dipekerjakan dengan maksimal.

Atas aktivitas yang dilakukan pada suatu aset tetap saat dijalankan, ada dua kemungkinan yang akan timbul.

  • Adanya pengeluaran (expenditure) untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan aset tetap (maintenance)
  • Adanya penurunan fungsi, juga berkurangnya umur ekonomis aktiva tetap yang dioperasikan, dalam akuntansi bisa kita kenal sebagai penyusutan (depreciation)

Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang yang pertama, yaitu pengeluaran aktiva tetap (ekspenditure), karena untuk penyusutan aset tetap, sudah saya tulis sebelumnya.
Silahkan baca: Penyusutan

Perlakuan Akuntansi Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure

Tadi sudah saya jelaskan, akibat dari penggunaan aktiva tetap adalah adanya beberapa pengeluaran pengeluaran yang dilakukan.

Nah pertanyaannya..

Apakah pengeluaran pengeluaran atas penggunaan aktiva tersebut DIBEBANKAN atau DIKAPITALISASI ?
Mari kita lihat.

Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang biasa terjadi pada saat aktiva tetap digunakan.

# Pemeliharaan | Maintenance

Pemeliharaan atau Maintenance aktiva tetap adalah tindakan yang bertujuan hanya untuk membuat aset tetap berfungsi normal seperti biasanya

Segala bentuk pengeluaran sebaiknya dijadikan biaya atau di-BEBAN-kan diperiode pada saat biaya maintenance tersebut di keluarkan.
Apakah boleh dikapitalisasi ?

Ok, yang ini nanti saja 🙂
Contoh Kasus Biaya Maintenance :Untuk memberikan Oli pada mesin produksinya seperti biasanya, PT ABC mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000 serta membersihkan mesinnya

Pada kasus tersebut, transaksi sudah sangat jelas, bahwa PT ABC mengeluarkan cash untuk menjaga agar mesin produksinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Pengeluaran ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :

Debit | Office Maintenance 400.000
Kredit | Cash 400.000

# Perbaikan Aktiva Tetap | Repair

Perbaikan (repair) adalah tindakan terhadap aktiva tetap dimana aktivitas ini lebih besar daripada aktivitas pemeliharaan (maintenance).

Bila aktiva tetap tersebut bisa berfungsi secara maksimal jika dilakukan tindakan perbaikan (repair) terlebih dahulu.

Seperti ada bagian atau komponen pada aktiva tetap tersebut menurun fungsinya TETAPI masih belum diperlukan pergantian menyeluruh atas aktiva tetap tersebut.

Contoh Kasus :

Dari kasus PT ABC diatas, saat teknisi mulai akan memasukkan atau mengganti Oli akan tetapi diketahui komponen saluran Oli mesinnya diketahui bocor terkena korosi sehingga oli mesin tak bisa bekerja dengan semestinya.

Untuk itu PT ABC harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengelas bagian mesin tersebut sebesar Rp 600.000,-
Dari contoh kasus di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan ini bukan hanya sekedar aktivitas melakukan pemeliharaan (maintenance) melainkan sudah terjadi aktivitas perbaikan (repairs) pada aktiva tetap mesin yang dimiliki PT ABC.

Maka, PT ABC harus melakukan pencatatan sebagai berikut :

Debit | Akumulasi Penyusutan Mesin 600.000
Debit | Office Maintenance 400.000
Kredit | Cash 400.000

Apakah boleh dikapitalisasi semua ?

Sabar, tunggu dulu 🙂

# Pergantian Komponen Aset

Penggantian komponen aktiva tetap, sudah jelas maksudnya, aktivitas penggantian satu atau beberapa komponen dari aset tetap

Contoh Kasus :

Ditemukan bahwa wiper kaca mobil rusak dan ban mobil operasional pecah, wiper tidak bisa dipakai lagi sedangkan ban pecah.

Maka PT ABC perlu melakukan penggantian terhadap komponen yang sudah tidak berfungsi tersebut secara terpisah.

Dari nota pembelian. tertera harga ban Rp 1.475.000,- dan harga wiper kaca mobil adalah 70.000,-
Atas transaksi tersebut, dilakukan pencatatan sebagai berikut :

Debit | Maintenance 70.000
Debit | Akumulasi Penyusutan Mobil 1.475.000
Kredit | Cash 1.545.000

Mengapa tidak dikapitalisasi semua ?

Mengapa hanya ban mobil yang dikapitalisasi?

Ok, mohon sabar lagi ya, nanti dulu 🙂

# Pengangkatan Kapasitas

Perusahaan yang sedang bertumbuh dan berkembang, biasanya jumlah produksinya juga meningkat.

Akibatnya, perusahaan mau tak mau melakukan peningkatan kapasitas (upgrade) terhadap aset tetap yang digunakan, apakah itu gudang, mesin, tanah atau apapun itu sumber daya yang menghasilkan terhadap pertumbuhan perusahaan.

Jika terjadi upgrading terhadap aktiva tetap, hal ini akan menimbulkan pengeluaran pengeluaran yang cukup bernilai material bagi perusahaan.
Contoh Kasus Peningkatan Kapasitas (Up-grading)

PT Bianglala, yang bergerak dalam usaha pakan ternak, akhir akhir ini mengalami permintaan pesanan, omzet terus bertambah.

untuk itu PT Bianglala memutuskan untuk menambah kapasitas mesin Boiler yang dimiliki saat ini.

Pemanas boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan ingin di ubah menjadi bahan bakar batu bara agar kinerja boiler meningkat.

Dalam peningkatan kapasitas tersebut, PT Bianglala mengeluarkan kas dengan rincian sebagai berikut :

Pembelian Besi 17.000.000
Biaya Pasang Teknisi 7.000.000
Penadah Batu Bara 6.000.000
Biaya Lain Lain 2.000.000

Transaksi tersebut dicatat :

Debit | Mesin 32.000.000
Kredit | Cash 32.000.000

# Turun Mesin | Overhaul

Turun mesin (overhaul) akan dialami oleh aset tetap tipe mesin atau aktivitasnya menggunakan mesin.

Contohnya: Mobil, Mesin produksi, mobil atau kendaraan lainnya dan peralatan yang berhubungan dengan produksi.

Aktiva mengalami turun mesin jika untuk bisa membuat suatu aset berfungsi dengan baik diperlukan pembongkaran hampir menyeluruh pada komponen utama dari aktiva tetap tersebut, lalu dilakukan pemasangan kembali.

Pada saat aktiva dalam proses turun mesin, terjadi juga proses pergantian komponen, pemeliharaan, juga perbaikan pada aset mesin tersebut.

Aktivitas over haul umumnya terjadi saat mesin menurun output-nya secara signfikan karena penggunaan yang sering.

Tindakan over haul akan memperpanjang umur keekonomian mesin tersebut.

Maka pengeluaran yang timbul sebaiknya dikapitalisasi dengan mendebit rekening akumulasi penyusutan sebesar pengeluaran turun mesin tersebut.
Contoh Kasus Turun Mesin

PT ABC Melakukan Turun Mesin pada salah satu mesin produksinya.

Mesin yang di beli 9 tahun lalu diperoleh dengan harga Rp 50.000.000.

Saat itu, mesin tersebut diestimasi memiliki life time selama 10 tahun dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus.

Setelah dilakukan turun mesin tersebut, mesin tersebut diperkirakan akan mampu produktif hingga 5 tahun kedepan.

Perusahaan menghabiskan dana hingga Rp. 8.000.000 untuk turun mesin tersebut
Maka dilakukan pencatatan sebagai berikut :

Debit | Akumulasi Penyusutan 8.000.000
Kredit | Cash 8.000.000

Notes :
Jurnal diatas untuk mengkapitalisasi pengeluaran atas turun mesin sebesar Rp 8.000.000

Masalah berikutnya :

  • Berapa akumulasi penyusutan setelah turun mesin?
  • Berapa besarnya Nilai Buku mesin setelah turun mesin?
  • Berapa biaya penyusutan yang akan dibebankan pada tahun ke 9 ?
  • Berapa Nilau Buku Tutup Tahun ke 9 nanti ?

Maka perlu kita lakukan perhitungan awal sebagai berikut :

Selanjutnya perhitungan seperti dibawah ini :

Sebelum Turun Mesin
Harga Perolehan 50.000.000
Umur Ekonomis 10 Tahun
Biaya Penyusutan Per Tahun 5.000.000
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 9 45.000.000
Nilai Tutup Buku Tahun ke 9 5.000.000
Setelah Turun Mesin
Akumulasi Penyusutan 37.000.000
Nilai Buku 13.000.000
Tambahan Umur Ekonomis 5
Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 10.400.000
Keterangan
Akumulasi Penyusutan 45.000.000 8.000.000
Nilai Buku 50.000.000 37.000.000
Penyusutan Tahun ke 10 13.000.000 : 5
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000 x 1
Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 13.000.000 2.600.000

Dari sana kita lihat.

Setelah pengeluaran atas turun mesin di kapitalisasi sebesar Rp 8,000,000 dengan cara mendebit rekening Akumulasi penyusutan sebesar Rp 8,000,000,

Maka Akumulasi Penyusutan berkurang sebesar Rp 8,000,000, sehingga Akumulasi Penyusutan setelah turun mesin adalah :

Rp 45.000.000 – Rp 8.000.000 =  Rp 37.000.000

Nilai Buku menjadi
Rp 50.000.000 – 37.000.000 = Rp 13.000.000

Penyusutan yang dibebankan pada tahun ke-10 adalah sebesar :
Rp 13.000.000 : 5 Tahun = 2.600.000
5 Tahun adalah umur ekonomis setelah turun mesin, selama 5 tahun ke depan mesin tersebut dapat beroperasi

Nilai Buku tutup tahun ke-8 ini pun menjadi bisa kita hitung, yaitu :
Rp 13.000.000 – Rp 2.600.000 = 10.400.000

Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan

Diatas tadi pada contoh kasus, beli ban dikapitalisasi, sedangkan beli wiper mobil kok tidak ?

Wiper mobil harganya cuma 70 ribu.

Mau dikapitalisasi kok nilainya kecil amat, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai laba jika langsung dibebankan.

Ok, berikut ini yang perlu diperhatikan,
Apakah pengeluaran aktiva tetap (expenditure) itu sebaiknya dikapitalisasi atau di bebankan pada periode tersebut ?


Tingkat Keseringan

Jika jenis pengeluaran tersebut sering terjadi dan sifatnya rutin, sebaiknya pengeluaran tersebut dijadikan biaya saja pada saat periode terjadinya pengeluaran atas aktiva tersebut.

Materialitas

Apabila suatu pengeluaran dirasa cukup material, hendaknya pengeluaran tersebut dikapitalisasi, sedangkan bila tidak, berarti di bebankan.

Cara mengetahui material tidaknya dengan membandingkan pengeluaran yang terjadi dengan harga perolehan aset tetapnya.

Tingkat materialitas dari toko bangunan tentu berbeda dengan perusahaan tambang.

5 juta mungkin nilai yang material bagi toko bangunan. tapi bisa jadi recehan bagi perusahaan tambang !
Lama Manfaat

Jika pengeluaran terhadap aktiva tetap tersebut diprediksi akan memberikan manfaat yang lama atau lebih dari satu tahun buku.

Maka sebaiknya pengeluaran atas aktiva tersebut hendaknya di kapitalisasi,

Dan jika kurang dari satu buku, hendaknya tidak.

Tapi sangkut pautkan juga dengan materialitasnya.

Pengaruhnya terhadap Lama Manfaat atau Kapasitas Aktiva Tetap

Apabila pengeluaran atas aktiva tetap tersebut di perkirakan memperpanjang umur atau meningkatkan kapasitas aktiva, hendaknya di kapitalisasi.

Dan demikian sebaliknya.

Bagaimana ?

Sudah ada gambaran ?

Semoga artikel ini bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi yang membacanya  🙂

Jika dirasa artikel ini bagus dan berguna.. silahkan untuk di share 🙂

Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/01/pengeluaran-aktiva-expenditure-aktiva-repair-maintenance.html

Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap | Fixed assets

Aktiva Tetap – Pada kesempatan kali ini saya akan menulis tentang aktiva tetap. artikel aktiva tetap ini saya sadur dari beberapa sumber.

Definisi atau Pengertian Aset Tetap menurut para ahli adalah harta kekayaan atau sumber daya entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu. aset tetap digunakan dalam menjalankan aktivitas operasional usaha perusagaan untuk menghasilkan barang atau jasa.

Peranan aset tetap sangat signifikan dalam menghasilkan barang dan jasa, misalnya tanah/lahan dan bangunan tempat produksi, mesin dan berbagai peralatan lain yang digunakan sebagai alat produksi dan yang lainnya.

Sofyan Safri berpendapat bahwa :
“Aset tetap adalah aset suatu entitas yang menjadi hak milik perusahaan yang digunakan untuk memproduksi (menghasilkan) barang atau jasa entitas bisnis dan penggunaannya secara terus menerus.”
Sedangkan PSAK menuturkan bahwa aktiva tetap ialah aset yang berwujud yang didapat/diperoleh dengan kondisi siap pakai maupun dibangun terlebih dahulu dan dipakai dalam aktivitas operasi perusahaan, tidak ditujukan dijual kembali dalam rangka aktivitas normal perusahaan serta memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku (lebih dari satu periode).

Karakteristik Aktiva Tetap

Aset Tetap memiliki beberapa karakteristik, berikut diantaranya:

  • Mempunyai wujud fisik
  • Tidak ditujukan untuk dijual lagi
  • Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya tanah, bangunan, mesin dan kendaraan dll.
  • Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaat ekonominya bisa diukur dengan handal.
  • Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti barang dagang/persediaan atau investasi) misal, mobil bagi dealer mobil diakui sebagai “persediaan” bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture mobil diakui sebagai “Aktiva Tetap” bukan persediaan.

Pengakuan Aktiva Tetap

Sebuah perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap jika aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan karakteristiknya seperti yang telah disebut sebelumnya.

Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset tetap apabila :

  • Potensi manfaat ekonomi aset akan dirasakan perusahaan dimasa mendatang.

Untuk menentukan/menilai suatu aset akan memberikan manfaat dimasa mendatang, terjadinya manfaat ekonomis aset tersebut harus dinilai dan dipastikan bahwa entitas usaha akan mendapatkan imbalan manfaat dan menerima resikonya yang terkait.

  • Biaya perolehan aset yang dikeluarkan bisa diukur dengan handal, bukti bukti transaksi perolehan aset diperlukan guna mendukungnya.
Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aktiva tetap adalah perusahaan mempunyai kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang diharapkan  akan diterima dari aset tetap tersebut.

Penggolongan Aktiva Tetap

Aset tetap diklasifikasikan (dikelompokkan) karena aset tetap mempunyai sifat dan karakter yang beda dengan aktiva yang lain.

Aset tetap terdiri atas beberapa jenis barang, jadi perlu dikelompokkan masing masing aktiva tersebut.

Pengelompokan aktiva ini berdasarkan kebijakan Akuntansi pada perusahaan masing karena pada umumnya makin banyak aset tetap yang dimiliki akan makin banyak juga kelompoknya.

Nominal atau nilai yang relatif signifikan dan jenis serta bentuk aktiva tetap yang cukup beragam membuat perusahaan harus lebih berhati hati dalam proses penggolongannya.

Biasanya, untuk tujuan akuntansi, aktiva tetap digolongkan seperti ini:

  • Aset Tetap yang umumnya tak terbatas misalnya tanah untuk letak perusahaan, peternakan dan pertanian.
  • Aset Tetap yang umumnya terbatas, dan jika asetnya telah habis penggunaannya bisa diganti oleh aset sejenis. contohnya mesin, peralatan, meubeler dan yang lainnya.
  • Aset Tetap yang umumnya terbatas dan jika penggunaannya telah habis tidak bisa diganti dengan aset sejenis misal tambang dan sumber alam yang lain.
Dan seorang Sofyan Safri mengelompokkan aktiva tetap dari berbagai sudut, antara lain :


[1] Sudut Substansi Aset Tetap

  • Aset Berwujud (Tangible Assets), misalnya gedung, mesin, peralatan dll
  • Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets), misalnya hak patent, trademark, goodwill, franchise dll
[2] Aset Tetap Disusutkan atau tidak disusutkan
  • Aset disusutkan (Depresiasi plant asset)  seperti mesin, bangunan, peralatan, kendaraan dll.
  • Aset tidak disusutkan (Undepreciated plant asset) seperti tanah


[3] Aset Tetap Berdasarkan Jenisnya
  • Bangunan, gedung yang berdiri pencatatannya dipisah dari lahan yang menjadi lokasinya
  • Lahan, sebidang tanah kosong maupun yang sudah ada bangunannya, pencatatannya dipisah dengan bangunan.
  • Mesin, didalamnya termasuk peralatan yang menjadi komponen/bagian dari mesin
  • Kendaraan, semua jenis kendaraan seperti kendaraan bermotor, alat pengangkut dan yang lainnya
  • Perabot, semua yang merupakan isi dari gedung. misalnya perabotan kantor, perabotan pabrik,
  • Inventaris, peralatan yang digunakan seperti inventaris gudang, inventaris kantor dan yang lainnya.
  • Prasarana, seperti jalan akses, pagar, jembatan dan lain sebagainya
Demikian lah penjabaran mengenai Pengertian Aset Tetap atau Aktiva Tetap, semoga dapat membantu dan bermanfaat.

Oh iya, bagaimana dengan perlakuan akuntansi atas aktiva tetap ?

Anda dapat membaca tulisan saya bertahap di sini : Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-aset-tetap-atau-aktiva-tetap.html

Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap (aktiva tetap)

Penjelasan umum mengenai aktiva tetap atau yang juga dikenal dengan sebutan Aset Tetap berwujud silahkan baca di postingan pengertian Aset Tetap

Secara umum, Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap dibagi kedalam beberapa fase

  1. Fase Perolehan Aset Tetap
  2. Fase Penggunaan Aset Tetap
  3. Fase Penarikan Aset Tetap

Perolehan Aktiva Tetap

Fase perolehan aktiva tetap adalah fase dimana aset tetap diperoleh hingga aset tetap tersebut dapat digunakan atau berfungsi. Permasalahan yang timbul pada fase ini meliputi:

Perolehan Aktiva Tetap (Acquisition)
Pemasangan Aktiva Tetap (Installation)

Juga meliputi: Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas perolehan aset tetap.

Penggunaan Aset Tetap

Fase dimana saat aset tetap sudah dan sedang dioperasikan, biasanya permasalahan yang timbul pada fase ini antara lain :

Penarikan Aktiva Tetap | Retirement of Plant Assets

Pada penarikan aktiva tetap ini, pembahasan bisa dibagi menjadi :
Beserta : Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas penarikan aset tetap.
Perlakuan Aset tetap juga menyenggol hal hal dibawah ini, kalau sempat nanti juga diposting
  • Audit dan Rasio Aktiva Tetap
  • Penilaian Investasi atas Aktiva Tetap
  • Sekilas mengenai Aktiva Tetap Sumber Daya Alam
Kejadian kejadian khusus juga menarik untuk dibahas nantinya seperti aset yang tercuri atau aset terbakar, perlakuannya bagaimana?
Sejauh ini, saya rasa cukup begini dulu gambaran perlakuan akuntansi aset tetap masing masing pos nanti akan diposting pelan pelan ya.. semoga bermanfaat
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/10/perlakuan-akuntansi-aset-tetap.html

 

Pengertian AMORTISASI

Amortisasi

Amortisasi – Ilmu Akuntansi terdapat istilah penurunan nilai atau penyusutan dari sebuah aset yang mempunyai umur ekonomis yang lama.

Aset yang mempunyai umur ekonomis lumayan lama adalah aset tetap dan aset tidak berwujud.

Contoh Aset Tetap misalnya Tanah, Bangunan, Mesin, kendaraan dan yang lainnya

Contoh Aset Tak Berwujud misalnya Hak Paten, Merk Dagang, Goodwill dan yang lainnya.

Semua Aset tersebut memiliki umur ekonomis dan mengalami penurunan nilai tiap saat.

Nah penurunan nilai dalam pengertian akuntansi di kenal sebagai penyusutan (depresiasi) untuk aktiva tetap dan Amortisasi (amortization) untuk aktiva tidak berwujud.

Pengertian Amortisasi

Depresiasi merupakan alokasi secara sistematis jumlah nominal yang bisa disusutkan terhadap aset tetap selama masa manfaatnya (umur ekonomis) aset tersebut.

Sedangkan pengertian amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai suatu aktiva tidak berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu di setiap periode akuntansi.

Pengurangan nilai aktiva tak berwujud ini dilakukan dengan cara mendebit akun beban amortisasi dan mengkredit akun aktiva tak berwujud.

Jadi terlihat bedanya :

Aktiva Tetap : Penyusutan
Aktiva Tidak Berwujud : Amortisasi

Contoh jurnalnya :

Debit | Beban Amortisasi Goodwill Rp100
Kredit | Goodwill Rp100

Definisi Amortisasi yang lain menyebutkan,
Amortisasi adalah Non Notification Loan yaitu suatu prosedur akuntansi yang dengan cara bertahap mengurangi nilai biaya dan suatu aset dengan umur ekonomis yang terbatas atau aktiva tak berwujud lain melalui pembebanan secara berkala ke pendapatan.  Amortisasi juga bisa memiliki arti pengurangan kewajiban dengan pembayaran pokok serta bunga dengan teratur dalam jumlah tertentu hingga pinjaman terbayar ketika tanggal jatuh tempo.

Misalnya, apabila biaya sebesar Rp 10 Juta dan harus di amortisasi selama 10 tahun,

Laporan keuangan nanti akan menyajikan biaya Rp 10 juta /tahun selama 10 tahun.

Apabila biaya tidak di amortisasi kan, seluruh Rp 10 juta akan muncul di dalam laporan keuangan sebagai beban pada saat tahun pengeluaran itu dilakukan.

 

Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/03/amortisasi.html

Perlakuan Akuntansi Aset Tetap Rusak atau Kebakaran

Penarikan Aktiva Tetap

Sudah baca artikel sebelumnya tentang perlakuan akuntansi pada aset yang hilang? jika belum, anda bisa membacanya di : Aset Tetap yang Hilang

OK, dan pada kali ini saya posting tentang penarikan aset tetap, setelah sebelumnya saya menulis tentang aset tetap yang hilang, kali ini saya akan posting tentang perlakuan akuntansi pada aset tetap yang rusak (fatal damaged) dan aset tetap yang terbakar (fire loss).

Aset Tetap Rusak (Fatal Damaged) dan Terbakar (Fire Loss)

Terkadang dalam sebuah usaha, ada saja kejadian kejadian yang tentunya tidak diinginkan terjadi, tidak terpikirkan bahkan tidak diduga bahwa sesuatu hal merugikan perusahaan yang tidak direncanakan bisa dialami oleh sebuah perusahaan besar maupun entitas skala kecil. aset tetap yang ada bisa rusak kapan saja, bisa terbakar kapan saja tanpa adanya jadwal yang jelas. bagaimanakah perlakuan akuntansinya?
Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab rusaknya aset tetap. Kerusakan bisa diakibatkan kelalaian pihak perusahaan sendiri ataupun akibat force majeur.

[1] Kelalaian Pihak Perusahaan Sendiri

Kelalaian pihak internal perusahaan sendiri bisa dilakukan oleh karyawan, pemilik atau siapapun yang berada dalam lingkaran internal perusahaan.  dari berbagai referensi, kelalaian pihak internal perusahaan ada beberapa kemungkinan dan yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut:
  • Terjadi kesalahan instalasi
Apabila kesalahan instalasi ini terjadi, sebenarnya yang bertanggung-jawab adalah teknisinya, teknisi bisa seorang tukang pasangnya. apabila menggunakan jasa teknisi dari luar perusahaan (outsourching) maka tentu saja yang bertanggungjawab mengganti rugi adalah pihak yang menyediakan jasa instalasi itu jika ada perjanjian didalamnya sebelumnya.
  • Salah Dalam Pengoperasian
Apabila kasus seperti ini yang terjadi, maka yang bertanggungjawab adalah operator dan supervisornya atau bisa juga orang dalam perusahaan, tentunya tergantung pada kebijakan masing masing perusahaan, bentuk tanggungjawab diwujudkan dalam penggantian kerugian aset tetap. tetapi apabila kebijakan perusahaan tidak mengharuskan adanya ganti rugi kepada operator maupuan supervisornya, ya selamatlah si operator dari tuntutan ganti rugi, semua tergantung perusahaan masing masing, karena beda perusahaan biasanya beda kebijakan.

Force Majeur | kerusakan karena bencana alam

Bentuk dari Force Majeur bisa beragam, Banjir, kebakaran, gempa, bahkan badai, kerispatih (#eh). Guna melindungi aset tetapnya dari kemungkinan kerugian atas bila terjadi force majeur, perusahaan biasanya menggunakan jasa asuransi untuk meminimalisir resiko (loss coverage) kerugian. dan yang paling penting, semua kejadian kategori force majeur yang terjadi harus disertai oleh bukti lapor dari kepolisian.

Ok, lalu bagaimana prosedur penghapusannya?

prosedur penghapusan sama saja prosedurnya dengan kasus kehilangan, namun akan menjadi sedikit berbeda jika setelah kerusakan ada ganti rugi ataupun diganti oleh asuransi (insurance coverage).

Contoh kasus:

PT Foraz pada tanggal  6 Juni 2014 meresmikan sekaligus memakai untuk pertama kalinya gedung ekspansi PT Foraz yang di perolehnya dengan Harga Perolehan senilai Rp 1.000.000.000, (1M) diperkirakan, gedung baru tersebut akan bertahan selama umur ekonomisnya  hingga 50 tahun lamanya. untuk menghitung penyusutan gedung. manajemen memutuskan untuk menggunakan metode garis lurus.
tapi celakanya,pada 28 agustus 2014 gedung yang baru saja diresmikan tersebut mengalami musibah kebakaran yang meludeskan hampir seluruh bagian gedung. beruntungnya PT foraz, gedung yang terbakar tersebut telah diasuransikan dan mendapat uang pertanggungan pada tanggal 29 Agustus sebesar Rp 800.000.000.

Langkah Pertama: Update Nilai Buku terakhir Aset Tetap Gedung

Penyusutan 6 Jan – 28 Agustus 2014:

Penyusutan = 3/12 x (Rp 1.000,000,000/50) = Rp 5.000.000

Akui penyusutan dengan jurnal:

[Debit]      Depreciation        Rp 5.000.000
[Credit]             Accum. Deprec                 Rp 5.000.000

catatan: penyusutan hanya 3 bulan, karena gedung sempat dipakai selama 3 bulan

Dari penjurnalan seperti diatas maka Akumulasi penyusutan sebesar  Rp 5.000.000

Sehingga nilai buku aktiva gedung per tanggal 28 Agustus 2014 menjadi:

Nilai Perolehan – Akumulasi penyusutan aset tetap gedung
1.000.000.000 – 5.000.000
= Rp  995.000.000

Langkah ke dua: Hapus Aset Tetap Gedung

Pada tanggal 28 Agustus 2014, Aset Tetap Gedung yang terbakar dihapus, jurnalnya:

[Debit ] Accum Deprec.             Rp       5,000,000
[Debit ] Fire Lost Rp                  Rp   995.000.000
[Credit] Aset Tetap Gedung                               Rp 1.000.000,000

Langkah Selanjutnya: Pengakuan Klaim Asuransi

Tanggal 29 Agustus 2014, penerimaan klaim asuransi sebesar Rp 800,000,000 jurnalnya:

[Debit] Kas                 Rp 800,000,000
[Credit] Fire Lost                                   Rp 800,000,000

Jadi, dari penjurnalan diatas, maka kerugian akibat kebakaran gedung per tanggal 29 Agustus 2014 tinggal:

Rp 995.000.000 – Rp 800.000.000
= Rp 195.000.000

Notes:

Pada akhir periode, sama seperti aset tetap yang hilang, Aset Tetapnya tentu tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldonya sudah nol, sedangkan kerugiannya dimasukkan ke dalam kelompok Pos Pos Luar biasa (extra ordinary items). Dan dalam catatan laporan keuangan, harus diberikan penjelasan yang cukup mengenai penyebab terjadinya Extraordinary Items.
Dari kasus Aset Tetap terbakar diatas, sederhananya, apabila bangunan perusahaan terbakar sampai habis hingga tak tersisa, atau dalam bahasa inggrisnya ludes, semua isi isinya semacam mesin, peralatan, inventory dan semuanya juga hangus dibawa api api yang lagi marah.
Mesin dan juga peralatan kantor dapat dihapus dengan cara yang sama seperti penghapusan bangunan, tetapi bagaimana dengan Inventorinya? Apakah sama caranya? tidak. penghapusan inventori tidak sama dengan aset tetap, karena inventori itu berhubungan/terkait langsung dengan harga pokok penjualan. jika ada waktu luang akan saya posting juga.

sekian tulisan tentang perlakuan akuntansi aktiva tetap rusak atau kebakaran (force majeur) semoga sedikit bermanfaat bagi yang membaca 🙂 dan oh ya mungkin anda juga tertarik untuk mengetahui : Pengertian Akuntansi

Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/11/aset-tetap-rusak-terbakar-perlakuan-akuntansi.html