Cara Membuat Pelanggan Yang Tidak Puas Menjadi Senang

Anda mungkin tidak dapat menyenangkan semua konsumen Anda, namun tidak ada salahnya jika Anda mencoba. Bagaimana perusahaan top menangani pelanggan yang tidak senang ? Berikut adalah strategi yang mereka lakukan untuk menyenangkan pelanggan yang tidak senang menjadi senang : 1. Beradaptasi dengan tipe kepribadian pelanggan Anda perlu mengetahui dengan tingkah pola perilaku pelanggan Anda terlebih dahulu kemudian beradaptasi dengan kebiasaan perilaku pelanggan tersebut. Ada pelanggan yang tidak sabaran atau cenderung agresif, pelanggan yang suka berbicara banyak, atau pelanggan yang sering merasa khawatir. Anda perlu tahu bagaimana cara menghadapi pelanggan – pelanggan Anda. 2. Merespon cepat Kecepatan lebih penting dari solusi. Tanpa kecepatan Anda tidak akan memiliki kesempatan untuk menemukan solusi. Pelanggan juga akan merasa senang jika keluhannya direspon dengan cepat. Mereka akan merasa dihargai dan akan kembali memberi produk Anda karena pelayanan yang Anda berikan sangat baik. 3. Bertanggung jawab penuh atas kesalahan Tentu Anda harus bertanggung jawab atas kesalahan yang Anda lakukan terlebih lagi jika menyangkut soal pelanggan. Jika Anda tidak bertanggun jawab pada kesalahan Anda tentu Anda akan kehilangan pelanggan Anda. Dan nama produk atau bisnis Anda di cap tidak baik. 4. Libatkan pelanggan Anda dapat menyediakan ruang bagi pelanggan untuk memberikan umpan baliknya. Pelanggan Anda dapat memberikan rating 1 – 5 bintang pada sistem kinerja perusahaan atau produk Anda. Jika rating kurang dari 5, Anda dapat melakukan survey atau melihat orang atau produk Anda yang bermasalah. 5. Gunakan kekuatan maaf Maaf adalah kata yang kuat untuk karena Anda mengakui kesalahan Anda membuat pelanggan Anda tidak nyaman karena mengambil waktu dari jadwal mereka untuk menghubungi Anda. Anda bisa mengatakan “Kami akan segera mengurus ini untuk Anda. (( sumber : laruno.com)) brosur SisKA UMKM 5

Perbedaan Pengeluaran Modal vs Pengeluaran Pendapatan

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat artikel tentang pengeluaran aktiva (expenditure). Ada kawan sempat bertanya tentang istilah :
"dibebankan atau dikapitalisasi ?"
Dan ternyata beberapa pembaca juga bingung, maksudnya bagaimana ? Baiklah, tulisan kali ini bisa berhubungan dan sedikit menjelaskan,

Capital Expenditure | Pengeluaran Modal

Pengeluaran modal atau yang juga dikenal dengan istilah capex (capital expenditure) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap, menambah kapasitas output aktiva tetap, menambah tingkat keefisienan aktiva tetap, juga memperpanjang umur ekonomis suatu aktiva tetap (manfaat ekonomisnya lebih dari satu tahun buku). Apabilia dilihat dari tingkat material, biasanya, biaya biaya ini dikeluarkan dalam nominal yang cukup material. Selain itu tingkat keseringan pengeluaran modal ini jarang terjadi.
Contohnya:
Biaya yang dikeluarkan dalam pembelian aktiva tetap Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pembelian salah satu atau lebih komponen aktiva tetap Maupun biaya penggantian komponen-komponen aktiva yang perlu diganti
Biaya yang dikeluarkan dengan tujuan mendapatkan manfaat ekonomis dimasa yang akan datang, meningkatkan kapasitas produksi maupun tingkat efisiensi dan juga bisa memperpanjang umur ekonomis atau masa manfaat atas aset tetap.
Misalnya, pembelian mesin produksi, pembelian komponen mesin produksi, meng-upgrade kapasitas mesin produksi, yang umumnya jumlah yang dikeluarkan untuk itu sangat material.
Jadi, pengeluaran modal merupakan pengeluaran yang tidak dibebankan pada saat periode pengeluaran itu terjadi melainkan di KAPITALISASI sebagai aset tetap dalam Neraca. Karena pengeluaran pengeluaran ini diharapkan memberikan manfaat untuk perusahaan di masa yang akan datang ! Kemudian, secara periodik, aset tetap ini dialokasikan sebagai beban penyusutan pada periode mendatang.

Revenue Expenditure | Pengeluaran Pendapatan

Pengertian revenue expenditure atau pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran/biaya biaya yang hanya memberikan manfaat ekonomis pada saat PERIODE BERJALAN terjadinya pengeluaran. Pengeluaran ini tidak dikapitalisasi sebagai aset tetap pada neraca tetapi LANGSUNG DIBEBANKAN pada laporan laba/rugi periode berjalan. Dilihat dari nilai materialitasnya, pengeluaran pendapatan ini nilainya cenderung kecil, alias tidak material bagi perusahaan. Manfaat ekonomisnya yang diperoleh tidak lebih dari satu tahun buku. Pengeluaran ini biasanya juga sering terjadi dalam operasional perusahaan dan berulang ulang.
Contohnya seperti pengeluaran pemeliharaan mesin, pembersihan mesin, melumasi mesin agar bisa beroperasi seperti biasanya. Pengeluaran pengeluaran seperti ini biasanya tidak membuat umur ekonomis mesin bertambah, juga tidak bisa meningkatkan kapasitas produksi mesin maupun tingkat efisiensinya Dan nominal yang dikeluarkan cenderung tidak material dibanding perolehan mesin itu sendiri. Pengeluaran seperti ini berulang terjadi dan pencatatannya langsung dibebankan pada periode tersebut.
Namun, jika seandainya ada salah satu komponen mesin yang rusak, misalnya ada beberapa kabel yang harus diganti atau plank yang harus di las dan kerusakannya tidak sampai membuat turun mesin, nilainya tidak material. Maka pengeluaran ini dicatat sebagai beban perbaikan. Tidak dikapitalisasi !
Apa bisa dimengerti ?
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/01/perbedaan-pengeluaran-modal-vs.html
 

Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) | Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure

Dalam perlakuan akuntansi terhadap aset tetap, ada fase penggunaan aktiva tetap (utilization) setelah fase perolehan aset tetap. Pada fase penggunaan aktiva tetap ini, aktiva tetap diharapkan menghasilkan output dan memberikan hasil kembali atas biaya biaya yang pernah dikeluarkan pada saat masa perolehannya. Ya, sudah seharusnya aktiva tetap yang dibeli mulai menghasilkan sesuatu untuk perusahaan.
Tapi, Setiap output yang dihasilkan oleh aktiva tetap, tentunya memerlukan pengorbanan yang dalam akuntansi biasa disebut sebagai beban/biaya (expenses) ataupun cost (harga pokok). Agar bisa berproduksi untuk menghasilkan output yang diharapkan, aktiva tetap harus dijalankan atau dipekerjakan dengan maksimal. Atas aktivitas yang dilakukan pada suatu aset tetap saat dijalankan, ada dua kemungkinan yang akan timbul.
  • Adanya pengeluaran (expenditure) untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan aset tetap (maintenance)
  • Adanya penurunan fungsi, juga berkurangnya umur ekonomis aktiva tetap yang dioperasikan, dalam akuntansi bisa kita kenal sebagai penyusutan (depreciation)
Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang yang pertama, yaitu pengeluaran aktiva tetap (ekspenditure), karena untuk penyusutan aset tetap, sudah saya tulis sebelumnya. Silahkan baca: Penyusutan

Perlakuan Akuntansi Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure

Tadi sudah saya jelaskan, akibat dari penggunaan aktiva tetap adalah adanya beberapa pengeluaran pengeluaran yang dilakukan. Nah pertanyaannya.. Apakah pengeluaran pengeluaran atas penggunaan aktiva tersebut DIBEBANKAN atau DIKAPITALISASI ? Mari kita lihat. Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang biasa terjadi pada saat aktiva tetap digunakan.

# Pemeliharaan | Maintenance

Pemeliharaan atau Maintenance aktiva tetap adalah tindakan yang bertujuan hanya untuk membuat aset tetap berfungsi normal seperti biasanya Segala bentuk pengeluaran sebaiknya dijadikan biaya atau di-BEBAN-kan diperiode pada saat biaya maintenance tersebut di keluarkan. Apakah boleh dikapitalisasi ? Ok, yang ini nanti saja 🙂 Contoh Kasus Biaya Maintenance :Untuk memberikan Oli pada mesin produksinya seperti biasanya, PT ABC mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000 serta membersihkan mesinnya Pada kasus tersebut, transaksi sudah sangat jelas, bahwa PT ABC mengeluarkan cash untuk menjaga agar mesin produksinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Pengeluaran ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Debit | Office Maintenance 400.000
Kredit | Cash 400.000

# Perbaikan Aktiva Tetap | Repair

Perbaikan (repair) adalah tindakan terhadap aktiva tetap dimana aktivitas ini lebih besar daripada aktivitas pemeliharaan (maintenance). Bila aktiva tetap tersebut bisa berfungsi secara maksimal jika dilakukan tindakan perbaikan (repair) terlebih dahulu. Seperti ada bagian atau komponen pada aktiva tetap tersebut menurun fungsinya TETAPI masih belum diperlukan pergantian menyeluruh atas aktiva tetap tersebut. Contoh Kasus : Dari kasus PT ABC diatas, saat teknisi mulai akan memasukkan atau mengganti Oli akan tetapi diketahui komponen saluran Oli mesinnya diketahui bocor terkena korosi sehingga oli mesin tak bisa bekerja dengan semestinya. Untuk itu PT ABC harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengelas bagian mesin tersebut sebesar Rp 600.000,- Dari contoh kasus di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan ini bukan hanya sekedar aktivitas melakukan pemeliharaan (maintenance) melainkan sudah terjadi aktivitas perbaikan (repairs) pada aktiva tetap mesin yang dimiliki PT ABC. Maka, PT ABC harus melakukan pencatatan sebagai berikut :
Debit | Akumulasi Penyusutan Mesin 600.000
Debit | Office Maintenance 400.000
Kredit | Cash 400.000
Apakah boleh dikapitalisasi semua ? Sabar, tunggu dulu 🙂

# Pergantian Komponen Aset

Penggantian komponen aktiva tetap, sudah jelas maksudnya, aktivitas penggantian satu atau beberapa komponen dari aset tetap Contoh Kasus : Ditemukan bahwa wiper kaca mobil rusak dan ban mobil operasional pecah, wiper tidak bisa dipakai lagi sedangkan ban pecah. Maka PT ABC perlu melakukan penggantian terhadap komponen yang sudah tidak berfungsi tersebut secara terpisah. Dari nota pembelian. tertera harga ban Rp 1.475.000,- dan harga wiper kaca mobil adalah 70.000,- Atas transaksi tersebut, dilakukan pencatatan sebagai berikut :
Debit | Maintenance 70.000
Debit | Akumulasi Penyusutan Mobil 1.475.000
Kredit | Cash 1.545.000
Mengapa tidak dikapitalisasi semua ? Mengapa hanya ban mobil yang dikapitalisasi? Ok, mohon sabar lagi ya, nanti dulu 🙂

# Pengangkatan Kapasitas

Perusahaan yang sedang bertumbuh dan berkembang, biasanya jumlah produksinya juga meningkat. Akibatnya, perusahaan mau tak mau melakukan peningkatan kapasitas (upgrade) terhadap aset tetap yang digunakan, apakah itu gudang, mesin, tanah atau apapun itu sumber daya yang menghasilkan terhadap pertumbuhan perusahaan. Jika terjadi upgrading terhadap aktiva tetap, hal ini akan menimbulkan pengeluaran pengeluaran yang cukup bernilai material bagi perusahaan. Contoh Kasus Peningkatan Kapasitas (Up-grading) PT Bianglala, yang bergerak dalam usaha pakan ternak, akhir akhir ini mengalami permintaan pesanan, omzet terus bertambah. untuk itu PT Bianglala memutuskan untuk menambah kapasitas mesin Boiler yang dimiliki saat ini. Pemanas boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan ingin di ubah menjadi bahan bakar batu bara agar kinerja boiler meningkat. Dalam peningkatan kapasitas tersebut, PT Bianglala mengeluarkan kas dengan rincian sebagai berikut :
Pembelian Besi 17.000.000
Biaya Pasang Teknisi 7.000.000
Penadah Batu Bara 6.000.000
Biaya Lain Lain 2.000.000
Transaksi tersebut dicatat :
Debit | Mesin 32.000.000
Kredit | Cash 32.000.000

# Turun Mesin | Overhaul

Turun mesin (overhaul) akan dialami oleh aset tetap tipe mesin atau aktivitasnya menggunakan mesin. Contohnya: Mobil, Mesin produksi, mobil atau kendaraan lainnya dan peralatan yang berhubungan dengan produksi. Aktiva mengalami turun mesin jika untuk bisa membuat suatu aset berfungsi dengan baik diperlukan pembongkaran hampir menyeluruh pada komponen utama dari aktiva tetap tersebut, lalu dilakukan pemasangan kembali. Pada saat aktiva dalam proses turun mesin, terjadi juga proses pergantian komponen, pemeliharaan, juga perbaikan pada aset mesin tersebut. Aktivitas over haul umumnya terjadi saat mesin menurun output-nya secara signfikan karena penggunaan yang sering. Tindakan over haul akan memperpanjang umur keekonomian mesin tersebut. Maka pengeluaran yang timbul sebaiknya dikapitalisasi dengan mendebit rekening akumulasi penyusutan sebesar pengeluaran turun mesin tersebut. Contoh Kasus Turun Mesin PT ABC Melakukan Turun Mesin pada salah satu mesin produksinya. Mesin yang di beli 9 tahun lalu diperoleh dengan harga Rp 50.000.000. Saat itu, mesin tersebut diestimasi memiliki life time selama 10 tahun dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus. Setelah dilakukan turun mesin tersebut, mesin tersebut diperkirakan akan mampu produktif hingga 5 tahun kedepan. Perusahaan menghabiskan dana hingga Rp. 8.000.000 untuk turun mesin tersebut Maka dilakukan pencatatan sebagai berikut :
Debit | Akumulasi Penyusutan 8.000.000
Kredit | Cash 8.000.000
Notes : Jurnal diatas untuk mengkapitalisasi pengeluaran atas turun mesin sebesar Rp 8.000.000 Masalah berikutnya :
  • Berapa akumulasi penyusutan setelah turun mesin?
  • Berapa besarnya Nilai Buku mesin setelah turun mesin?
  • Berapa biaya penyusutan yang akan dibebankan pada tahun ke 9 ?
  • Berapa Nilau Buku Tutup Tahun ke 9 nanti ?
Maka perlu kita lakukan perhitungan awal sebagai berikut : Selanjutnya perhitungan seperti dibawah ini :
Sebelum Turun Mesin
Harga Perolehan 50.000.000
Umur Ekonomis 10 Tahun
Biaya Penyusutan Per Tahun 5.000.000
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 9 45.000.000
Nilai Tutup Buku Tahun ke 9 5.000.000
Setelah Turun Mesin
Akumulasi Penyusutan 37.000.000
Nilai Buku 13.000.000
Tambahan Umur Ekonomis 5
Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 10.400.000
Keterangan
Akumulasi Penyusutan 45.000.000 - 8.000.000
Nilai Buku 50.000.000 - 37.000.000
Penyusutan Tahun ke 10 13.000.000 : 5
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000 x 1
Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 13.000.000 - 2.600.000
Dari sana kita lihat. Setelah pengeluaran atas turun mesin di kapitalisasi sebesar Rp 8,000,000 dengan cara mendebit rekening Akumulasi penyusutan sebesar Rp 8,000,000, Maka Akumulasi Penyusutan berkurang sebesar Rp 8,000,000, sehingga Akumulasi Penyusutan setelah turun mesin adalah : Rp 45.000.000 - Rp 8.000.000 =  Rp 37.000.000 Nilai Buku menjadi Rp 50.000.000 - 37.000.000 = Rp 13.000.000 Penyusutan yang dibebankan pada tahun ke-10 adalah sebesar : Rp 13.000.000 : 5 Tahun = 2.600.000 5 Tahun adalah umur ekonomis setelah turun mesin, selama 5 tahun ke depan mesin tersebut dapat beroperasi Nilai Buku tutup tahun ke-8 ini pun menjadi bisa kita hitung, yaitu : Rp 13.000.000 – Rp 2.600.000 = 10.400.000

Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan

Diatas tadi pada contoh kasus, beli ban dikapitalisasi, sedangkan beli wiper mobil kok tidak ? Wiper mobil harganya cuma 70 ribu. Mau dikapitalisasi kok nilainya kecil amat, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai laba jika langsung dibebankan. Ok, berikut ini yang perlu diperhatikan, Apakah pengeluaran aktiva tetap (expenditure) itu sebaiknya dikapitalisasi atau di bebankan pada periode tersebut ? Tingkat Keseringan Jika jenis pengeluaran tersebut sering terjadi dan sifatnya rutin, seb