Cara Membuat Pelanggan Yang Tidak Puas Menjadi Senang

Anda mungkin tidak dapat menyenangkan semua konsumen Anda, namun tidak ada salahnya jika Anda mencoba. Bagaimana perusahaan top menangani pelanggan yang tidak senang ? Berikut adalah strategi yang mereka lakukan untuk menyenangkan pelanggan yang tidak senang menjadi senang : 1. Beradaptasi dengan tipe kepribadian pelanggan Anda perlu mengetahui dengan tingkah pola perilaku pelanggan Anda terlebih dahulu kemudian beradaptasi dengan kebiasaan perilaku pelanggan tersebut. Ada pelanggan yang tidak sabaran atau cenderung agresif, pelanggan yang suka berbicara banyak, atau pelanggan yang sering merasa khawatir. Anda perlu tahu bagaimana cara menghadapi pelanggan – pelanggan Anda. 2. Merespon cepat Kecepatan lebih penting dari solusi. Tanpa kecepatan Anda tidak akan memiliki kesempatan untuk menemukan solusi. Pelanggan juga akan merasa senang jika keluhannya direspon dengan cepat. Mereka akan merasa dihargai dan akan kembali memberi produk Anda karena pelayanan yang Anda berikan sangat baik. 3. Bertanggung jawab penuh atas kesalahan Tentu Anda harus bertanggung jawab atas kesalahan yang Anda lakukan terlebih lagi jika menyangkut soal pelanggan. Jika Anda tidak bertanggun jawab pada kesalahan Anda tentu Anda akan kehilangan pelanggan Anda. Dan nama produk atau bisnis Anda di cap tidak baik. 4. Libatkan pelanggan Anda dapat menyediakan ruang bagi pelanggan untuk memberikan umpan baliknya. Pelanggan Anda dapat memberikan rating 1 – 5 bintang pada sistem kinerja perusahaan atau produk Anda. Jika rating kurang dari 5, Anda dapat melakukan survey atau melihat orang atau produk Anda yang bermasalah. 5. Gunakan kekuatan maaf Maaf adalah kata yang kuat untuk karena Anda mengakui kesalahan Anda membuat pelanggan Anda tidak nyaman karena mengambil waktu dari jadwal mereka untuk menghubungi Anda. Anda bisa mengatakan “Kami akan segera mengurus ini untuk Anda. (( sumber : laruno.com)) brosur SisKA UMKM 5

Perbedaan Pengeluaran Modal vs Pengeluaran Pendapatan

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membuat artikel tentang pengeluaran aktiva (expenditure). Ada kawan sempat bertanya tentang istilah :
"dibebankan atau dikapitalisasi ?"
Dan ternyata beberapa pembaca juga bingung, maksudnya bagaimana ? Baiklah, tulisan kali ini bisa berhubungan dan sedikit menjelaskan,

Capital Expenditure | Pengeluaran Modal

Pengeluaran modal atau yang juga dikenal dengan istilah capex (capital expenditure) merupakan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tetap, menambah kapasitas output aktiva tetap, menambah tingkat keefisienan aktiva tetap, juga memperpanjang umur ekonomis suatu aktiva tetap (manfaat ekonomisnya lebih dari satu tahun buku). Apabilia dilihat dari tingkat material, biasanya, biaya biaya ini dikeluarkan dalam nominal yang cukup material. Selain itu tingkat keseringan pengeluaran modal ini jarang terjadi.
Contohnya:
Biaya yang dikeluarkan dalam pembelian aktiva tetap Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pembelian salah satu atau lebih komponen aktiva tetap Maupun biaya penggantian komponen-komponen aktiva yang perlu diganti
Biaya yang dikeluarkan dengan tujuan mendapatkan manfaat ekonomis dimasa yang akan datang, meningkatkan kapasitas produksi maupun tingkat efisiensi dan juga bisa memperpanjang umur ekonomis atau masa manfaat atas aset tetap.
Misalnya, pembelian mesin produksi, pembelian komponen mesin produksi, meng-upgrade kapasitas mesin produksi, yang umumnya jumlah yang dikeluarkan untuk itu sangat material.
Jadi, pengeluaran modal merupakan pengeluaran yang tidak dibebankan pada saat periode pengeluaran itu terjadi melainkan di KAPITALISASI sebagai aset tetap dalam Neraca. Karena pengeluaran pengeluaran ini diharapkan memberikan manfaat untuk perusahaan di masa yang akan datang ! Kemudian, secara periodik, aset tetap ini dialokasikan sebagai beban penyusutan pada periode mendatang.

Revenue Expenditure | Pengeluaran Pendapatan

Pengertian revenue expenditure atau pengeluaran pendapatan adalah pengeluaran/biaya biaya yang hanya memberikan manfaat ekonomis pada saat PERIODE BERJALAN terjadinya pengeluaran. Pengeluaran ini tidak dikapitalisasi sebagai aset tetap pada neraca tetapi LANGSUNG DIBEBANKAN pada laporan laba/rugi periode berjalan. Dilihat dari nilai materialitasnya, pengeluaran pendapatan ini nilainya cenderung kecil, alias tidak material bagi perusahaan. Manfaat ekonomisnya yang diperoleh tidak lebih dari satu tahun buku. Pengeluaran ini biasanya juga sering terjadi dalam operasional perusahaan dan berulang ulang.
Contohnya seperti pengeluaran pemeliharaan mesin, pembersihan mesin, melumasi mesin agar bisa beroperasi seperti biasanya. Pengeluaran pengeluaran seperti ini biasanya tidak membuat umur ekonomis mesin bertambah, juga tidak bisa meningkatkan kapasitas produksi mesin maupun tingkat efisiensinya Dan nominal yang dikeluarkan cenderung tidak material dibanding perolehan mesin itu sendiri. Pengeluaran seperti ini berulang terjadi dan pencatatannya langsung dibebankan pada periode tersebut.
Namun, jika seandainya ada salah satu komponen mesin yang rusak, misalnya ada beberapa kabel yang harus diganti atau plank yang harus di las dan kerusakannya tidak sampai membuat turun mesin, nilainya tidak material. Maka pengeluaran ini dicatat sebagai beban perbaikan. Tidak dikapitalisasi !
Apa bisa dimengerti ?
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/01/perbedaan-pengeluaran-modal-vs.html
 

Pengeluaran Aktiva Tetap (Expenditure) | Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure

Dalam perlakuan akuntansi terhadap aset tetap, ada fase penggunaan aktiva tetap (utilization) setelah fase perolehan aset tetap. Pada fase penggunaan aktiva tetap ini, aktiva tetap diharapkan menghasilkan output dan memberikan hasil kembali atas biaya biaya yang pernah dikeluarkan pada saat masa perolehannya. Ya, sudah seharusnya aktiva tetap yang dibeli mulai menghasilkan sesuatu untuk perusahaan.
Tapi, Setiap output yang dihasilkan oleh aktiva tetap, tentunya memerlukan pengorbanan yang dalam akuntansi biasa disebut sebagai beban/biaya (expenses) ataupun cost (harga pokok). Agar bisa berproduksi untuk menghasilkan output yang diharapkan, aktiva tetap harus dijalankan atau dipekerjakan dengan maksimal. Atas aktivitas yang dilakukan pada suatu aset tetap saat dijalankan, ada dua kemungkinan yang akan timbul.
  • Adanya pengeluaran (expenditure) untuk perbaikan maupun untuk pemeliharaan aset tetap (maintenance)
  • Adanya penurunan fungsi, juga berkurangnya umur ekonomis aktiva tetap yang dioperasikan, dalam akuntansi bisa kita kenal sebagai penyusutan (depreciation)
Pada tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang yang pertama, yaitu pengeluaran aktiva tetap (ekspenditure), karena untuk penyusutan aset tetap, sudah saya tulis sebelumnya. Silahkan baca: Penyusutan

Perlakuan Akuntansi Pengeluaran Aktiva Tetap | Expenditure

Tadi sudah saya jelaskan, akibat dari penggunaan aktiva tetap adalah adanya beberapa pengeluaran pengeluaran yang dilakukan. Nah pertanyaannya.. Apakah pengeluaran pengeluaran atas penggunaan aktiva tersebut DIBEBANKAN atau DIKAPITALISASI ? Mari kita lihat. Ada beberapa kegiatan atau aktivitas yang biasa terjadi pada saat aktiva tetap digunakan.

# Pemeliharaan | Maintenance

Pemeliharaan atau Maintenance aktiva tetap adalah tindakan yang bertujuan hanya untuk membuat aset tetap berfungsi normal seperti biasanya Segala bentuk pengeluaran sebaiknya dijadikan biaya atau di-BEBAN-kan diperiode pada saat biaya maintenance tersebut di keluarkan. Apakah boleh dikapitalisasi ? Ok, yang ini nanti saja 🙂 Contoh Kasus Biaya Maintenance :Untuk memberikan Oli pada mesin produksinya seperti biasanya, PT ABC mengeluarkan uang sebesar Rp 400.000 serta membersihkan mesinnya Pada kasus tersebut, transaksi sudah sangat jelas, bahwa PT ABC mengeluarkan cash untuk menjaga agar mesin produksinya bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Pengeluaran ini dicatat dengan jurnal sebagai berikut :
Debit | Office Maintenance 400.000
Kredit | Cash 400.000

# Perbaikan Aktiva Tetap | Repair

Perbaikan (repair) adalah tindakan terhadap aktiva tetap dimana aktivitas ini lebih besar daripada aktivitas pemeliharaan (maintenance). Bila aktiva tetap tersebut bisa berfungsi secara maksimal jika dilakukan tindakan perbaikan (repair) terlebih dahulu. Seperti ada bagian atau komponen pada aktiva tetap tersebut menurun fungsinya TETAPI masih belum diperlukan pergantian menyeluruh atas aktiva tetap tersebut. Contoh Kasus : Dari kasus PT ABC diatas, saat teknisi mulai akan memasukkan atau mengganti Oli akan tetapi diketahui komponen saluran Oli mesinnya diketahui bocor terkena korosi sehingga oli mesin tak bisa bekerja dengan semestinya. Untuk itu PT ABC harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengelas bagian mesin tersebut sebesar Rp 600.000,- Dari contoh kasus di atas, kita dapat melihat bahwa tindakan ini bukan hanya sekedar aktivitas melakukan pemeliharaan (maintenance) melainkan sudah terjadi aktivitas perbaikan (repairs) pada aktiva tetap mesin yang dimiliki PT ABC. Maka, PT ABC harus melakukan pencatatan sebagai berikut :
Debit | Akumulasi Penyusutan Mesin 600.000
Debit | Office Maintenance 400.000
Kredit | Cash 400.000
Apakah boleh dikapitalisasi semua ? Sabar, tunggu dulu 🙂

# Pergantian Komponen Aset

Penggantian komponen aktiva tetap, sudah jelas maksudnya, aktivitas penggantian satu atau beberapa komponen dari aset tetap Contoh Kasus : Ditemukan bahwa wiper kaca mobil rusak dan ban mobil operasional pecah, wiper tidak bisa dipakai lagi sedangkan ban pecah. Maka PT ABC perlu melakukan penggantian terhadap komponen yang sudah tidak berfungsi tersebut secara terpisah. Dari nota pembelian. tertera harga ban Rp 1.475.000,- dan harga wiper kaca mobil adalah 70.000,- Atas transaksi tersebut, dilakukan pencatatan sebagai berikut :
Debit | Maintenance 70.000
Debit | Akumulasi Penyusutan Mobil 1.475.000
Kredit | Cash 1.545.000
Mengapa tidak dikapitalisasi semua ? Mengapa hanya ban mobil yang dikapitalisasi? Ok, mohon sabar lagi ya, nanti dulu 🙂

# Pengangkatan Kapasitas

Perusahaan yang sedang bertumbuh dan berkembang, biasanya jumlah produksinya juga meningkat. Akibatnya, perusahaan mau tak mau melakukan peningkatan kapasitas (upgrade) terhadap aset tetap yang digunakan, apakah itu gudang, mesin, tanah atau apapun itu sumber daya yang menghasilkan terhadap pertumbuhan perusahaan. Jika terjadi upgrading terhadap aktiva tetap, hal ini akan menimbulkan pengeluaran pengeluaran yang cukup bernilai material bagi perusahaan. Contoh Kasus Peningkatan Kapasitas (Up-grading) PT Bianglala, yang bergerak dalam usaha pakan ternak, akhir akhir ini mengalami permintaan pesanan, omzet terus bertambah. untuk itu PT Bianglala memutuskan untuk menambah kapasitas mesin Boiler yang dimiliki saat ini. Pemanas boiler ini menggunakan bahan bakar kayu dan ingin di ubah menjadi bahan bakar batu bara agar kinerja boiler meningkat. Dalam peningkatan kapasitas tersebut, PT Bianglala mengeluarkan kas dengan rincian sebagai berikut :
Pembelian Besi 17.000.000
Biaya Pasang Teknisi 7.000.000
Penadah Batu Bara 6.000.000
Biaya Lain Lain 2.000.000
Transaksi tersebut dicatat :
Debit | Mesin 32.000.000
Kredit | Cash 32.000.000

# Turun Mesin | Overhaul

Turun mesin (overhaul) akan dialami oleh aset tetap tipe mesin atau aktivitasnya menggunakan mesin. Contohnya: Mobil, Mesin produksi, mobil atau kendaraan lainnya dan peralatan yang berhubungan dengan produksi. Aktiva mengalami turun mesin jika untuk bisa membuat suatu aset berfungsi dengan baik diperlukan pembongkaran hampir menyeluruh pada komponen utama dari aktiva tetap tersebut, lalu dilakukan pemasangan kembali. Pada saat aktiva dalam proses turun mesin, terjadi juga proses pergantian komponen, pemeliharaan, juga perbaikan pada aset mesin tersebut. Aktivitas over haul umumnya terjadi saat mesin menurun output-nya secara signfikan karena penggunaan yang sering. Tindakan over haul akan memperpanjang umur keekonomian mesin tersebut. Maka pengeluaran yang timbul sebaiknya dikapitalisasi dengan mendebit rekening akumulasi penyusutan sebesar pengeluaran turun mesin tersebut. Contoh Kasus Turun Mesin PT ABC Melakukan Turun Mesin pada salah satu mesin produksinya. Mesin yang di beli 9 tahun lalu diperoleh dengan harga Rp 50.000.000. Saat itu, mesin tersebut diestimasi memiliki life time selama 10 tahun dengan menggunakan metode penyusutan garis lurus. Setelah dilakukan turun mesin tersebut, mesin tersebut diperkirakan akan mampu produktif hingga 5 tahun kedepan. Perusahaan menghabiskan dana hingga Rp. 8.000.000 untuk turun mesin tersebut Maka dilakukan pencatatan sebagai berikut :
Debit | Akumulasi Penyusutan 8.000.000
Kredit | Cash 8.000.000
Notes : Jurnal diatas untuk mengkapitalisasi pengeluaran atas turun mesin sebesar Rp 8.000.000 Masalah berikutnya :
  • Berapa akumulasi penyusutan setelah turun mesin?
  • Berapa besarnya Nilai Buku mesin setelah turun mesin?
  • Berapa biaya penyusutan yang akan dibebankan pada tahun ke 9 ?
  • Berapa Nilau Buku Tutup Tahun ke 9 nanti ?
Maka perlu kita lakukan perhitungan awal sebagai berikut : Selanjutnya perhitungan seperti dibawah ini :
Sebelum Turun Mesin
Harga Perolehan 50.000.000
Umur Ekonomis 10 Tahun
Biaya Penyusutan Per Tahun 5.000.000
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 9 45.000.000
Nilai Tutup Buku Tahun ke 9 5.000.000
Setelah Turun Mesin
Akumulasi Penyusutan 37.000.000
Nilai Buku 13.000.000
Tambahan Umur Ekonomis 5
Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000
Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 10.400.000
Keterangan
Akumulasi Penyusutan 45.000.000 - 8.000.000
Nilai Buku 50.000.000 - 37.000.000
Penyusutan Tahun ke 10 13.000.000 : 5
Akumulasi Penyusutan Tahun ke 10 2.600.000 x 1
Nilai Tutup Buku Tahun ke 10 13.000.000 - 2.600.000
Dari sana kita lihat. Setelah pengeluaran atas turun mesin di kapitalisasi sebesar Rp 8,000,000 dengan cara mendebit rekening Akumulasi penyusutan sebesar Rp 8,000,000, Maka Akumulasi Penyusutan berkurang sebesar Rp 8,000,000, sehingga Akumulasi Penyusutan setelah turun mesin adalah : Rp 45.000.000 - Rp 8.000.000 =  Rp 37.000.000 Nilai Buku menjadi Rp 50.000.000 - 37.000.000 = Rp 13.000.000 Penyusutan yang dibebankan pada tahun ke-10 adalah sebesar : Rp 13.000.000 : 5 Tahun = 2.600.000 5 Tahun adalah umur ekonomis setelah turun mesin, selama 5 tahun ke depan mesin tersebut dapat beroperasi Nilai Buku tutup tahun ke-8 ini pun menjadi bisa kita hitung, yaitu : Rp 13.000.000 – Rp 2.600.000 = 10.400.000

Beberapa Hal yang Perlu Dipertimbangkan

Diatas tadi pada contoh kasus, beli ban dikapitalisasi, sedangkan beli wiper mobil kok tidak ? Wiper mobil harganya cuma 70 ribu. Mau dikapitalisasi kok nilainya kecil amat, tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai laba jika langsung dibebankan. Ok, berikut ini yang perlu diperhatikan, Apakah pengeluaran aktiva tetap (expenditure) itu sebaiknya dikapitalisasi atau di bebankan pada periode tersebut ? Tingkat Keseringan Jika jenis pengeluaran tersebut sering terjadi dan sifatnya rutin, sebaiknya pengeluaran tersebut dijadikan biaya saja pada saat periode terjadinya pengeluaran atas aktiva tersebut. Materialitas Apabila suatu pengeluaran dirasa cukup material, hendaknya pengeluaran tersebut dikapitalisasi, sedangkan bila tidak, berarti di bebankan. Cara mengetahui material tidaknya dengan membandingkan pengeluaran yang terjadi dengan harga perolehan aset tetapnya. Tingkat materialitas dari toko bangunan tentu berbeda dengan perusahaan tambang. 5 juta mungkin nilai yang material bagi toko bangunan. tapi bisa jadi recehan bagi perusahaan tambang ! Lama Manfaat Jika pengeluaran terhadap aktiva tetap tersebut diprediksi akan memberikan manfaat yang lama atau lebih dari satu tahun buku. Maka sebaiknya pengeluaran atas aktiva tersebut hendaknya di kapitalisasi, Dan jika kurang dari satu buku, hendaknya tidak. Tapi sangkut pautkan juga dengan materialitasnya. Pengaruhnya terhadap Lama Manfaat atau Kapasitas Aktiva Tetap Apabila pengeluaran atas aktiva tetap tersebut di perkirakan memperpanjang umur atau meningkatkan kapasitas aktiva, hendaknya di kapitalisasi. Dan demikian sebaliknya. Bagaimana ? Sudah ada gambaran ? Semoga artikel ini bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi yang membacanya  🙂 Jika dirasa artikel ini bagus dan berguna.. silahkan untuk di share 🙂
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/01/pengeluaran-aktiva-expenditure-aktiva-repair-maintenance.html

Pengertian Aktiva Tetap atau Aset Tetap | Fixed assets

Aktiva Tetap - Pada kesempatan kali ini saya akan menulis tentang aktiva tetap. artikel aktiva tetap ini saya sadur dari beberapa sumber.
Definisi atau Pengertian Aset Tetap menurut para ahli adalah harta kekayaan atau sumber daya entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi) pada masa yang lalu. aset tetap digunakan dalam menjalankan aktivitas operasional usaha perusagaan untuk menghasilkan barang atau jasa. Peranan aset tetap sangat signifikan dalam menghasilkan barang dan jasa, misalnya tanah/lahan dan bangunan tempat produksi, mesin dan berbagai peralatan lain yang digunakan sebagai alat produksi dan yang lainnya.
Sofyan Safri berpendapat bahwa :
"Aset tetap adalah aset suatu entitas yang menjadi hak milik perusahaan yang digunakan untuk memproduksi (menghasilkan) barang atau jasa entitas bisnis dan penggunaannya secara terus menerus."
Sedangkan PSAK menuturkan bahwa aktiva tetap ialah aset yang berwujud yang didapat/diperoleh dengan kondisi siap pakai maupun dibangun terlebih dahulu dan dipakai dalam aktivitas operasi perusahaan, tidak ditujukan dijual kembali dalam rangka aktivitas normal perusahaan serta memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku (lebih dari satu periode).

Karakteristik Aktiva Tetap

Aset Tetap memiliki beberapa karakteristik, berikut diantaranya:
  • Mempunyai wujud fisik
  • Tidak ditujukan untuk dijual lagi
  • Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya tanah, bangunan, mesin dan kendaraan dll.
  • Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaat ekonominya bisa diukur dengan handal.
  • Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti barang dagang/persediaan atau investasi) misal, mobil bagi dealer mobil diakui sebagai "persediaan" bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap" bukan persediaan.

Pengakuan Aktiva Tetap

Sebuah perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap jika aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan karakteristiknya seperti yang telah disebut sebelumnya. Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset tetap apabila :
  • Potensi manfaat ekonomi aset akan dirasakan perusahaan dimasa mendatang.
Untuk menentukan/menilai suatu aset akan memberikan manfaat dimasa mendatang, terjadinya manfaat ekonomis aset tersebut harus dinilai dan dipastikan bahwa entitas usaha akan mendapatkan imbalan manfaat dan menerima resikonya yang terkait.
  • Biaya perolehan aset yang dikeluarkan bisa diukur dengan handal, bukti bukti transaksi perolehan aset diperlukan guna mendukungnya.
Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aktiva tetap adalah perusahaan mempunyai kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang diharapkan  akan diterima dari aset tetap tersebut.

Penggolongan Aktiva Tetap

Aset tetap diklasifikasikan (dikelompokkan) karena aset tetap mempunyai sifat dan karakter yang beda dengan aktiva yang lain. Aset tetap terdiri atas beberapa jenis barang, jadi perlu dikelompokkan masing masing aktiva tersebut. Pengelompokan aktiva ini berdasarkan kebijakan Akuntansi pada perusahaan masing karena pada umumnya makin banyak aset tetap yang dimiliki akan makin banyak juga kelompoknya. Nominal atau nilai yang relatif signifikan dan jenis serta bentuk aktiva tetap yang cukup beragam membuat perusahaan harus lebih berhati hati dalam proses penggolongannya. Biasanya, untuk tujuan akuntansi, aktiva tetap digolongkan seperti ini:
  • Aset Tetap yang umumnya tak terbatas misalnya tanah untuk letak perusahaan, peternakan dan pertanian.
  • Aset Tetap yang umumnya terbatas, dan jika asetnya telah habis penggunaannya bisa diganti oleh aset sejenis. contohnya mesin, peralatan, meubeler dan yang lainnya.
  • Aset Tetap yang umumnya terbatas dan jika penggunaannya telah habis tidak bisa diganti dengan aset sejenis misal tambang dan sumber alam yang lain.
Dan seorang Sofyan Safri mengelompokkan aktiva tetap dari berbagai sudut, antara lain :
[1] Sudut Substansi Aset Tetap
  • Aset Berwujud (Tangible Assets), misalnya gedung, mesin, peralatan dll
  • Aset Tidak Berwujud (Intangible Assets), misalnya hak patent, trademark, goodwill, franchise dll
[2] Aset Tetap Disusutkan atau tidak disusutkan
  • Aset disusutkan (Depresiasi plant asset)  seperti mesin, bangunan, peralatan, kendaraan dll.
  • Aset tidak disusutkan (Undepreciated plant asset) seperti tanah
[3] Aset Tetap Berdasarkan Jenisnya
  • Bangunan, gedung yang berdiri pencatatannya dipisah dari lahan yang menjadi lokasinya
  • Lahan, sebidang tanah kosong maupun yang sudah ada bangunannya, pencatatannya dipisah dengan bangunan.
  • Mesin, didalamnya termasuk peralatan yang menjadi komponen/bagian dari mesin
  • Kendaraan, semua jenis kendaraan seperti kendaraan bermotor, alat pengangkut dan yang lainnya
  • Perabot, semua yang merupakan isi dari gedung. misalnya perabotan kantor, perabotan pabrik,
  • Inventaris, peralatan yang digunakan seperti inventaris gudang, inventaris kantor dan yang lainnya.
  • Prasarana, seperti jalan akses, pagar, jembatan dan lain sebagainya
Demikian lah penjabaran mengenai Pengertian Aset Tetap atau Aktiva Tetap, semoga dapat membantu dan bermanfaat.
Oh iya, bagaimana dengan perlakuan akuntansi atas aktiva tetap ? Anda dapat membaca tulisan saya bertahap di sini : Perlakuan Akuntansi Aset Tetap
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/10/pengertian-aset-tetap-atau-aktiva-tetap.html

Perlakuan Akuntansi Aset Tetap

Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap (aktiva tetap)
Penjelasan umum mengenai aktiva tetap atau yang juga dikenal dengan sebutan Aset Tetap berwujud silahkan baca di postingan pengertian Aset Tetap
Secara umum, Perlakuan Akuntansi atas Aset Tetap dibagi kedalam beberapa fase
  1. Fase Perolehan Aset Tetap
  2. Fase Penggunaan Aset Tetap
  3. Fase Penarikan Aset Tetap

Perolehan Aktiva Tetap

Fase perolehan aktiva tetap adalah fase dimana aset tetap diperoleh hingga aset tetap tersebut dapat digunakan atau berfungsi. Permasalahan yang timbul pada fase ini meliputi:
Perolehan Aktiva Tetap (Acquisition) Pemasangan Aktiva Tetap (Installation)
Juga meliputi: Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas perolehan aset tetap.

Penggunaan Aset Tetap

Fase dimana saat aset tetap sudah dan sedang dioperasikan, biasanya permasalahan yang timbul pada fase ini antara lain :

Penarikan Aktiva Tetap | Retirement of Plant Assets

Pada penarikan aktiva tetap ini, pembahasan bisa dibagi menjadi :
Beserta : Penilaian (pengukuran), Pengakuan (pencatatan) dan Pelaporan (disclosure) atas penarikan aset tetap.
Perlakuan Aset tetap juga menyenggol hal hal dibawah ini, kalau sempat nanti juga diposting
  • Audit dan Rasio Aktiva Tetap
  • Penilaian Investasi atas Aktiva Tetap
  • Sekilas mengenai Aktiva Tetap Sumber Daya Alam
Kejadian kejadian khusus juga menarik untuk dibahas nantinya seperti aset yang tercuri atau aset terbakar, perlakuannya bagaimana?
Sejauh ini, saya rasa cukup begini dulu gambaran perlakuan akuntansi aset tetap masing masing pos nanti akan diposting pelan pelan ya.. semoga bermanfaat
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/10/perlakuan-akuntansi-aset-tetap.html
 

Pengertian AMORTISASI

Amortisasi

Amortisasi - Ilmu Akuntansi terdapat istilah penurunan nilai atau penyusutan dari sebuah aset yang mempunyai umur ekonomis yang lama. Aset yang mempunyai umur ekonomis lumayan lama adalah aset tetap dan aset tidak berwujud. Contoh Aset Tetap misalnya Tanah, Bangunan, Mesin, kendaraan dan yang lainnya Contoh Aset Tak Berwujud misalnya Hak Paten, Merk Dagang, Goodwill dan yang lainnya. Semua Aset tersebut memiliki umur ekonomis dan mengalami penurunan nilai tiap saat. Nah penurunan nilai dalam pengertian akuntansi di kenal sebagai penyusutan (depresiasi) untuk aktiva tetap dan Amortisasi (amortization) untuk aktiva tidak berwujud.

Pengertian Amortisasi

Depresiasi merupakan alokasi secara sistematis jumlah nominal yang bisa disusutkan terhadap aset tetap selama masa manfaatnya (umur ekonomis) aset tersebut. Sedangkan pengertian amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai suatu aktiva tidak berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu di setiap periode akuntansi. Pengurangan nilai aktiva tak berwujud ini dilakukan dengan cara mendebit akun beban amortisasi dan mengkredit akun aktiva tak berwujud. Jadi terlihat bedanya :
Aktiva Tetap : Penyusutan
Aktiva Tidak Berwujud : Amortisasi
Contoh jurnalnya :
Debit | Beban Amortisasi Goodwill Rp100
Kredit | Goodwill Rp100
Definisi Amortisasi yang lain menyebutkan, Amortisasi adalah Non Notification Loan yaitu suatu prosedur akuntansi yang dengan cara bertahap mengurangi nilai biaya dan suatu aset dengan umur ekonomis yang terbatas atau aktiva tak berwujud lain melalui pembebanan secara berkala ke pendapatan.  Amortisasi juga bisa memiliki arti pengurangan kewajiban dengan pembayaran pokok serta bunga dengan teratur dalam jumlah tertentu hingga pinjaman terbayar ketika tanggal jatuh tempo. Misalnya, apabila biaya sebesar Rp 10 Juta dan harus di amortisasi selama 10 tahun, Laporan keuangan nanti akan menyajikan biaya Rp 10 juta /tahun selama 10 tahun. Apabila biaya tidak di amortisasi kan, seluruh Rp 10 juta akan muncul di dalam laporan keuangan sebagai beban pada saat tahun pengeluaran itu dilakukan.   Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/03/amortisasi.html

Perlakuan Akuntansi Aset Tetap Rusak atau Kebakaran

Penarikan Aktiva Tetap

Sudah baca artikel sebelumnya tentang perlakuan akuntansi pada aset yang hilang? jika belum, anda bisa membacanya di : Aset Tetap yang Hilang
OK, dan pada kali ini saya posting tentang penarikan aset tetap, setelah sebelumnya saya menulis tentang aset tetap yang hilang, kali ini saya akan posting tentang perlakuan akuntansi pada aset tetap yang rusak (fatal damaged) dan aset tetap yang terbakar (fire loss).

Aset Tetap Rusak (Fatal Damaged) dan Terbakar (Fire Loss)

Terkadang dalam sebuah usaha, ada saja kejadian kejadian yang tentunya tidak diinginkan terjadi, tidak terpikirkan bahkan tidak diduga bahwa sesuatu hal merugikan perusahaan yang tidak direncanakan bisa dialami oleh sebuah perusahaan besar maupun entitas skala kecil. aset tetap yang ada bisa rusak kapan saja, bisa terbakar kapan saja tanpa adanya jadwal yang jelas. bagaimanakah perlakuan akuntansinya?
Ada beberapa hal yang bisa menjadi penyebab rusaknya aset tetap. Kerusakan bisa diakibatkan kelalaian pihak perusahaan sendiri ataupun akibat force majeur.

[1] Kelalaian Pihak Perusahaan Sendiri

Kelalaian pihak internal perusahaan sendiri bisa dilakukan oleh karyawan, pemilik atau siapapun yang berada dalam lingkaran internal perusahaan.  dari berbagai referensi, kelalaian pihak internal perusahaan ada beberapa kemungkinan dan yang paling sering terjadi adalah sebagai berikut:
  • Terjadi kesalahan instalasi
Apabila kesalahan instalasi ini terjadi, sebenarnya yang bertanggung-jawab adalah teknisinya, teknisi bisa seorang tukang pasangnya. apabila menggunakan jasa teknisi dari luar perusahaan (outsourching) maka tentu saja yang bertanggungjawab mengganti rugi adalah pihak yang menyediakan jasa instalasi itu jika ada perjanjian didalamnya sebelumnya.
  • Salah Dalam Pengoperasian
Apabila kasus seperti ini yang terjadi, maka yang bertanggungjawab adalah operator dan supervisornya atau bisa juga orang dalam perusahaan, tentunya tergantung pada kebijakan masing masing perusahaan, bentuk tanggungjawab diwujudkan dalam penggantian kerugian aset tetap. tetapi apabila kebijakan perusahaan tidak mengharuskan adanya ganti rugi kepada operator maupuan supervisornya, ya selamatlah si operator dari tuntutan ganti rugi, semua tergantung perusahaan masing masing, karena beda perusahaan biasanya beda kebijakan.

Force Majeur | kerusakan karena bencana alam

Bentuk dari Force Majeur bisa beragam, Banjir, kebakaran, gempa, bahkan badai, kerispatih (#eh). Guna melindungi aset tetapnya dari kemungkinan kerugian atas bila terjadi force majeur, perusahaan biasanya menggunakan jasa asuransi untuk meminimalisir resiko (loss coverage) kerugian. dan yang paling penting, semua kejadian kategori force majeur yang terjadi harus disertai oleh bukti lapor dari kepolisian.
Ok, lalu bagaimana prosedur penghapusannya?
prosedur penghapusan sama saja prosedurnya dengan kasus kehilangan, namun akan menjadi sedikit berbeda jika setelah kerusakan ada ganti rugi ataupun diganti oleh asuransi (insurance coverage).
Contoh kasus:
PT Foraz pada tanggal  6 Juni 2014 meresmikan sekaligus memakai untuk pertama kalinya gedung ekspansi PT Foraz yang di perolehnya dengan Harga Perolehan senilai Rp 1.000.000.000, (1M) diperkirakan, gedung baru tersebut akan bertahan selama umur ekonomisnya  hingga 50 tahun lamanya. untuk menghitung penyusutan gedung. manajemen memutuskan untuk menggunakan metode garis lurus.
tapi celakanya,pada 28 agustus 2014 gedung yang baru saja diresmikan tersebut mengalami musibah kebakaran yang meludeskan hampir seluruh bagian gedung. beruntungnya PT foraz, gedung yang terbakar tersebut telah diasuransikan dan mendapat uang pertanggungan pada tanggal 29 Agustus sebesar Rp 800.000.000.
Langkah Pertama: Update Nilai Buku terakhir Aset Tetap Gedung Penyusutan 6 Jan – 28 Agustus 2014: Penyusutan = 3/12 x (Rp 1.000,000,000/50) = Rp 5.000.000 Akui penyusutan dengan jurnal: [Debit]      Depreciation        Rp 5.000.000 [Credit]             Accum. Deprec                 Rp 5.000.000 catatan: penyusutan hanya 3 bulan, karena gedung sempat dipakai selama 3 bulan Dari penjurnalan seperti diatas maka Akumulasi penyusutan sebesar  Rp 5.000.000 Sehingga nilai buku aktiva gedung per tanggal 28 Agustus 2014 menjadi:
Nilai Perolehan - Akumulasi penyusutan aset tetap gedung
1.000.000.000 - 5.000.000
= Rp  995.000.000
Langkah ke dua: Hapus Aset Tetap Gedung Pada tanggal 28 Agustus 2014, Aset Tetap Gedung yang terbakar dihapus, jurnalnya: [Debit ] Accum Deprec.             Rp       5,000,000 [Debit ] Fire Lost Rp                  Rp   995.000.000 [Credit] Aset Tetap Gedung                               Rp 1.000.000,000 Langkah Selanjutnya: Pengakuan Klaim Asuransi Tanggal 29 Agustus 2014, penerimaan klaim asuransi sebesar Rp 800,000,000 jurnalnya: [Debit] Kas                 Rp 800,000,000 [Credit] Fire Lost                                   Rp 800,000,000 Jadi, dari penjurnalan diatas, maka kerugian akibat kebakaran gedung per tanggal 29 Agustus 2014 tinggal:
Rp 995.000.000 - Rp 800.000.000
= Rp 195.000.000
Notes:
Pada akhir periode, sama seperti aset tetap yang hilang, Aset Tetapnya tentu tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldonya sudah nol, sedangkan kerugiannya dimasukkan ke dalam kelompok Pos Pos Luar biasa (extra ordinary items). Dan dalam catatan laporan keuangan, harus diberikan penjelasan yang cukup mengenai penyebab terjadinya Extraordinary Items.
Dari kasus Aset Tetap terbakar diatas, sederhananya, apabila bangunan perusahaan terbakar sampai habis hingga tak tersisa, atau dalam bahasa inggrisnya ludes, semua isi isinya semacam mesin, peralatan, inventory dan semuanya juga hangus dibawa api api yang lagi marah.
Mesin dan juga peralatan kantor dapat dihapus dengan cara yang sama seperti penghapusan bangunan, tetapi bagaimana dengan Inventorinya? Apakah sama caranya? tidak. penghapusan inventori tidak sama dengan aset tetap, karena inventori itu berhubungan/terkait langsung dengan harga pokok penjualan. jika ada waktu luang akan saya posting juga.
sekian tulisan tentang perlakuan akuntansi aktiva tetap rusak atau kebakaran (force majeur) semoga sedikit bermanfaat bagi yang membaca 🙂 dan oh ya mungkin anda juga tertarik untuk mengetahui : Pengertian Akuntansi
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/11/aset-tetap-rusak-terbakar-perlakuan-akuntansi.html

Aset Tetap Hilang Dicuri Maling? Begini Perlakuan Akuntansinya

Berbicara Aset Tetap, Sudahkan Anda membaca Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap? Bagaimana seandainya jika aset tetap yang dimiliki oleh perusahaan tiba tiba saja hilang tercuri maling? bagaimana Perlakuan Akuntansi Aset yang Hilang ? Aset Tetap yang hilang merupakan salah satu alasan penarikan aset tetap (Plant Asset Retirement). selain hilang, aset yang terbakar atau rusak juga merupakan alasan penarikan aset dengan kasus yang khusus, nanti akan saya tulis di lain postingan. Di tulisan ini akan saya bahas perlakuan dan prosedur penghapusan aset tetap yang hilang dicuri maling.

Aset Tetap Hilang Tercuri (Theft Asset)

  Aset tetap hilang tercuri? memang kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi. Dalam kasus seperti ini aset tetap yang hilang tentu harus dihapus dari buku atau catatan perusahaan. Pengahapusan buku atas aset tetap dilakukan berdasarkan bukti Surat Kehilangan dari pihak pihak kepolisian. tetapi bagaimana seandainya jika surat laporan kehilangan dari pihak kepolisian tidak ada? maka tidak bisa dilakukan penghapusan, pembuktiannya sangat sulit saat laporan keuangan kepada stake holder, mereka bakal tidak percaya. nah untuk itu diperlukan surat lapor kehilangan dari pihak kepolisian sebagai dasar penghapusan aset tetap. Contoh Kasus Pada tanggal 6 Juni 2014, PT.Foraz kehilangan Mesin Printing yang dahulu dibeli pada tanggal 01 Maret 2014 dengan harga perolehan Rp 160,000,000. atas kehilangan tersebut pihak PT. Foraz telah melaporkannya kepada pihak kepolisian dengan surat lapor no. 0606/IV/SLK/POLRI/2014 tertanggal 06 Juni 2014   Sekedar diketahui, PT Foraz Dalam menghitung penyusutannya menggunakan metode garis lurus. Diperkirakan umur ekonomis Mesin Printing diperkirakan 4 Tahun, dan PT Foraz tidak memperkirakan nilai sisa atau nilai residu pada aset mesin printing tersebut (nilai residu 0) Bagaimana Prosedur Penghapusan Mesin Printing Tersebut? Prosedur penghapusannya sebenarnya sederhana saja: Ok, untuk langkah pertama Update Buku Aset Tetap Mesin Printing Upadate nilai buku dengan menghitung penyusutan mesin printing dari tanggal perolehan mesin hingga tanggal hilangnya mesin printing tersebut. Penyusutan 01 Maret – 06 Juni 2014: Mesin Printing telah dipergunakan selama 3 bulan Penyusutan = 3/12 x (160,000,000/4) = Rp 10.000.000 Kemudian selanjutnya kita akui penyusutan mesin printing tersebut dengan jurnal :
Debit | Depreciation Rp10.000.000
Kredit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000
Notes: Penjurnalan diatas untuk:
  • Mengakui Biaya Penyusutan sebesar Rp 10.000.000
  • Mengakui Akumulasi penyusutan dengan besaran nominal yang sama.
  Maka, Nilai Buku Handycam per 06 Juni 2014, tanggal dimana aset tersebut hilang tercuri:   Perolehan mesin printing - Akumulasi penyusutan Rp 160.000.000 - Rp 10.000.000 = Rp 150.000.000 Jadi saat aset tersebut hilang, nilai bukunya sebesar Rp 150.000.000 Langkah Berikutnya: Hapus Aset Tetap (Mesin Printing) yang hilang Aset tetap yang hilang dihapuskan dengan jurnal:
Debit | Accumulated Depreciation Rp10.000.000
Debit | Rugi Kehilangan Aktiva Tetap Rp150.000.000
Kredit | Aktiva Tetap - Mesin Printing Rp160.000.000
Kesimpulan : Kerugian diakui sebesar Nilai Buku Aset Tetap yang hilang.

Pelaporan Penghapusan Aset Tetap yang Hilang

Di akhir periode, Aset Tetap mesin printingnya sudah tidak kelihatan lagi pada neraca karena saldo-nya sudah NOL sedangkan kerugian yang dialami diklasifikasikan ke dalam kelompok Pos Pos Luar Biasa (extra ordinary items). Dan dalam catatan laporan keuangan diberikan penjelasan mengenai terjadinya Extraordinary Items tersebut. Demikian tulisan tentang Perlakuan Aset Tetap Hilang Tercuri, bagaimana perlakuan Akuntansi jika aset tetap terbakar atau rusak? silahkan baca postingan saya selanjutnya disini: Aset Tetap Terbakar atau Rusak   Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2014/11/aset-tetap-hilang-tercuri-perlakuan-akuntansi.html

Akuntansi Peralatan Kecil | Perlakuan Akuntansi Peralatan Kecil

Akuntansi Peralatan Kecil

Peralatan kecil bagi perusahaan sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran pekerjaan, apalagi jenis perusahaan manufaktur yang kegiatan utamanya menggunakan mesin, pasti menggunakan peralatan peralatan kecil sebagai pendukung kelancaran operasional perusahaan. Bahkan. perusahaan yang tidak menggunakan mesinpun juga memerlukan peralatan kecil untuk kelancaran pekerjaan kantornya. Disetiap operasional perusahaan, pasti kita dapatkan peralatan kecil yang digunakan oleh perusahaan. Peralatan kecil banyak sekali jenisnya, tergantung juga perusahaannya apakah memerlukan atau tidak memerlukan. Namun ada beberapa karakteristik dari peralatan kecil yang bisa kita kenali. Berikut diantarnya:

Karakteristik Peralatan Kecil

Dilihat dari fungsinya Peralatan kecil tidak bisa menghasilkan barang atau jasa secara langsung, tapi memerlukan equipment yang lain, karena peralatan kecil fungsinya hanya sebagai penunjang operasional. Dilihat dari Umur Ekonomisnya Nilai Umur Ekonomis peralatan kecil biasanya melebihi satu (1) tahun buku akuntansi Dilihat dari Nilainya Peralatan kecil nilainya dalam perusahaan biasanya tidak material Contohnya seperti gunting, steples, obeng, meteran, penggaris dan lain sebagainya Karakter dari peralatan kecil yang seperti ini terkadang membikin kita bingung dalam bagaimana perlakuan akuntansinya ! Kita atau banyak perusahaan yang mencatat peralatan kecil sebagai biaya. Melihat dari tingkat ke-materialitas-nya yang relatif tidak mahal. peralatan kecil memang banyak yang dikelompokkan kedalam biaya pada periode peralatan tersebut diperoleht karena melihat tingkat nilai material dari peralatan kecil ini. Misalnya biaya pembelian dongkrak, obeng atau pun penggaris banyak yang mencatatnya sebagai "biaya Peralatan". Akan tetapi, dengan perlakuan akuntansi seperti itu, faktor umur ekonomis peralatan kecil yang melebihi 1 satu tahun buku bahkan ada yang bertahun tahun bila dirawat dengan baik menjadi terabaikan. Matching principle akuntansi menjadi tidak sesuai lagi jika memperlakukannya sebagai biaya. Namun, jika peralatan kecil kita masukkan ke kelompok aktiva tetap, bagaimana cara membebankan nantinya ? Bukankan nilai peralatan kecil ini nilainya relatif kecil ? Bisa membuat susah nantinya apalagi untuk perusahaan besar karena pasti ada ratusan hingga ribuan peralatan kecil yang digunakan. Akan sangat merepotkan menghitungnya. Lalu Bagaimana memperlakukan Peralatan Kecil? Saya kira ada dua penekanan yang bisa kita lakukan. Pertama kita lihat umur ekonomis peralatan kecil tersebut Lalu kemudian kita lihat nilai gabungan dari beberapa peralatan kecil tersebut. Telaah Umur Ekonomis Peralatan Kecilnya Pertimbangkan umur ekonomisnya terlebih dahulu, jika umur ekonomis peralatan kecil tersebut kurang dari 1 (satu) tahun buku, maka jelas kita langsung saja mengakuinya sebagai beban atau dibebankan pada periode yang sama saat peralatan tersebut diperoleh. Namun apabila peralatan kecil tersebut mempunyai umur atau masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun buku akuntansi, maka peralatan kecil ini "berpotensi" untuk dikelompokkan dalam aset tool & equipment. Ingat. "berpotensi" ! Tapi hal ini masih memerlukan pertimbangan selanjutnya. Lihat nilai gabungan peralatan kecilnya ! Pertimbangan yang diperlukan kedua adalah apabila peralatan kecil tersebut digabungkan dengan peralatan kecil yang lain, yang umurnya juga melebihi satu tahun buku dan nilai gabungannya menjadi nilai yang material Maka kita dapat mengelompokkan peralatan peralatan kecil tersebut ke dalam aset (peralatan dan perlengkapan). Untuk perusahaan kecil atau baru beroperasi mungkin belum banyak peralatan kecil yang digunakan, maka yang menjadi pertimbangan adalah potensi penggunaan peralatan kecil di masa mendatang karena mungkin saat ini peralatan nya jika digabungkan sekalipun nilainya tidak akan material, Tapi di masa yang akan datang, bisa saja peralatan peralatan kecil tersebut akan sangat signifikan nilai gabugannya.

Membebankan Peralatan Kecil Gabungan

Pembebanan peralatan kecil gabungan dilakukan menjelang penutupan buku dengan melakukan perhitungan fisik terhadap peralatan kecil gabungan tersebut. Jika pembebanan peralatan gabungan dilakukan dengan menyusutkan secara satu persatu dengan menggunakan metode garis lurus misalnya maupun saldo menurun tidaklah efektif.. Saldo Awal peralatan kecil tersebut adalah nilai total pembelian atau semua yang dikeluarkan saat perolehan peralatan kecil tersebut. Sedangkan saldo akhir atau nilai buku dari peralatan kecil tersebut adalah hasil perhitungan fisik peralatan kecil tersebut. Dengan begitu, maka peralatan yang terpakai nilainya bisa ditentukan. Contoh
Nama Peralatan Jml awal Jml akhir Terpakai Harga satuan Nilai Terpakai Nilai Buku
Steples 50 20 30 20.000,- 600.000,- 400.000,-
Penggaris 75 30 45 5.000,- 225.000,- 150.000,-
Total 825.000,- 550.000,-
Dari daftar di atas, kita bisa membuat pencatatan seperti ini :
Debit | Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000
Kredit | Akumulasi Penyusutan Peralatan Perlengkapan 8.250.000
Ok, Bisa dicerna kan ? Jika masih sulit dipahami, silahkan ditanyakan pada kolom komentar. Demikian pembahasan mengenai akuntansi peralatan kecil, jika dirasa bermanfaat, silahkan di share
Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/01/akuntansi-peralatan-kecil-perlakuan.html

Jurnal Penyesuaian | Contoh Jurnal Penyesuaian

Jurnal Penyesuaian adalah jurnal yang diperlukan untuk menyesuaikan seluruh catatan dengan keadaan (fakta) yang sesungguhnya di akhir periode. Tujuan dan Fungsi Jurnal Penyesuaian adalah supaya perkiraan nominal dan perkiraan riil bisa menunjukkan besar kecilnya harga, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban yang sesungguhnya dan yang seharusnya diakui di akhir periode. Jurnal penyesuaian dibuat berdasarkan pada data di neraca saldo dan data penyesuaian akhir periode. Tidak seluruh pos yang ada pada neraca saldo perlu jurnal penyesuaian.

Ayat Jurnal Penyesuaian | Adjustment Entry

Diperlukan adanya Ayat Jurnal Penyesuaian (Adjustment Entry) jika terjadi kesalahan dalam menerapkan sebuah perlakuan akuntansi, dan diketahui dalam tahun atau periode buku yang sama.
  • Transaksi diakui terlalu kecil atau terlalu kecil
  • Pengakuan yang terlalu awal (dini) atau terlalu akhir (dibelakang)
  • Penerapan metode penyusutan aset tetap yang tidak sesuai
Jurnal Penyesuaian dilakukan sebelum Penutupan Buku, prosedur-nya:
  1. Menyiapkan bukti transaksi yang butuh disesuaikan
  2. Print Out buku besar dan detail transaksi yang mengandung transaksi yang perlu disesuaikan
  3. Teliti mengapa diperlukan penyesuaian dan kenapa bisa terjadi
  4. Menentukan besarnya nominal transaksi yang harusnya terjadi, dan kemudian dibandingkan dengan jurnal yang pernah dicatat. Maka akan didapat selisih-nya
  5. Menyiapkan daftar jurnal penyesuaian yang nantinya akan di rekomendasikan
  6. Melakukan Jurnal Penyesuaian setelah disetujui oleh financial controller atau atasan yang lain.

Contoh dan Cara Jurnal Penyusutan

Debit Perkiraan yang diakui terlalu kecil dan kredit lawan rekening-nya sebesar nominal selisih-nya. Misalnya : Pembelian Bahan Baku Rp 1.000.000 diakui terlalu besar. Jurnal Penyesuaiannya
Debit | Kas (utang pada Vendor A) 1.000.000
Kredit | Bahan Baku 1.000.000
Piutang pada Vendor C Rp 1.500.000 diakui terlalu rendah/kecil Jurnal Penyesuaian nya:
Debit | Piutang Dagang Vendor C 1.500.000
Kredit | Penjualan 1.500.000
… dan sebagai-nya. Khusus untuk masalah 'waktu pengakuan' yang tidak sesuai : Baik itu terlalu dini atau terlalu akhir diakui, penanganan dalam masalah “waktu pengakuan” (tanggal) yang salah tergantung kebijakan dari manajemen masing masing perusahaan. Apabila kesalahan “waktu pengakuan” atau salah tanggal terjadi "tanggal pisah batas" (Tidak melewati cut off date) periode laporan, maka masalah tersebut bukanlah permasalahan yang serius. Tapi khusus akun/rekening UTANG atau pun PIUTANG, persoalan tanggal adalah serius ! Karena bisa berpengaruh terhadap potongan harga (discount) yang seharusnya diterima atau diberikan. Jadi semestinya tetap dilakukan jurnal penyesuaian.   Sumber : http://nichonotes.blogspot.co.id/2015/02/jurnal-penyesuaian-contoh-jurnal.html